Selasa, 18 Jan 2022 18:59 WIB

Ciri-ciri Anak Mengalami Kekerasan Seksual

dtv - detikHealth
Jakarta -

Tak mudah bagi korban kekerasan seksual membagikan cerita getirnya. Apalagi, jika sang korban berasal dari kalangan anak-anak.

Korban pelecehan seksual kerap menunjukkan perubahan perilaku hingga reaksi emosional. Begitupun yang dialami anak-anak, sebagai ekspresi trauma kekerasan yang alami.

"Perubahan emosi yang paling sering tampak. Jadi, tadinya ceria, menjadi murung, sedih, lalu kemudian juga motivasinya menjadi rendah. Kemudian juga trauma, jadi ini kadang-kadang kelihatannya dari pertama dia menunjukkan rasa ketakutan ketika harus berhadapan dengan sesuatu atau seseorang yang berkorelasi dengan kejadian tersebut. Jadi misalnya, sekolah, ya. Tiba-tiba dia nggak mau ke sekolahan," terang Psikolog Anak dan Remaja, Irma Gustiana A. di acara e-Life detikcom.

Dampak kekerasan seksual pada perilaku anak juga mempengaruhi caranya menjalani hari. Pola makan, pola tidur, hingga adanya reaksi fisiologis bisa jadi indikasi stres yang dialami anak pasca alami kekerasan.

"Mimpi buruk, pola tidurnya terganggu, dan nafsu makannya berkurang. Ketakutan hingga terserang secara fisiologis, pusing, mual, dan itu sebetulnya adalah tanda-tanda yang perlu orang tua waspadai," lanjut Irma.

Perubahan perilaku anak terhadap orang di sekitarnya juga perlu diperhatikan. Pada beberapa kasus, anak yang mengalami kekerasan seksual justru meniru aktivitas seksual yang dilakukan padanya.

"Nah, pada beberapa juga, ternyata ketika mereka menjadi korban dari perilaku seksual, ini meniru perilaku tersebut. Begitu. Jadi, ketika dia tidak tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah, nah, si anak ini melakukan ke dirinya sendiri atau kepada anak lain. Jadi, kadang-kadang dia melakukan aktivitas yang ada hubungannya dengan aktivitas seksual. Nah, itu juga orang tua perlu waspadai," jelas Irma.

Jika terdapat indikasi anak mengalami kekerasan seksual, orang tua perlu mengomunikasikannya dengan baik. Tawarkan bantuan pada anak, dan hindari sikap menghakimi.

"Yang pertama, kita perlu untuk hadir secara fisik dulu di dekat anak, lalu kemudian kita sampaikan concern-nya kita, ya, artinya kita merasa bahwa ada perubahan sikapnya dia yang membuat kita merasa khawatir. Sehingga kita menawarkan bantuan. Jangan menghakimi anak juga, misalnya mengatakan bahwa 'Mama sudah bilang!' nah itu juga yang nggak boleh," tutur Irma.

Anak yang mengalami kekerasan seksual biasanya enggan bercerita. Oleh karena itu, orang tua perlu meyakinkan anak bahwa ia aman dan berada di pendampingan yang tepat.

"Yang paling utama, dia perlu diyakinkan dulu, bahwa dia itu aman. Dia itu berada di tempat, berada di pendampingan yang tepat, dan membuat dia merasa tidak terancam lagi. Karen ini kan hubungannya relasi sosial ya, karena dia pernah ada trauma juga, karena kasus kekerasan yang dialami, maka kita harus membuat dia merasa aman dulu," kata Irma.

Apabila anak mengalami kekerasan seksual, penting baginya untuk mendapatkan pendampingan optimal. Irma menyarankan untuk segera melakukan pendampingan psikologis dari kalangan profesional.

(mjt/ids)