Rabu, 19 Jan 2022 15:06 WIB

Pakar Prediksi COVID-19 Tak Berakhir Jadi Endemi, Lebih Mungkin Seperti Campak

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19. Pakar prediksi COVID-19 sulit berakhir jadi endemi. (Foto: PIUS ERLANGGA)
Jakarta -

Omicron merebak di banyak negara, termasuk mereka yang menerapkan strategi ketat penanganan COVID-19. Australia misalnya, kini terancam menghadapi lebih banyak kasus kematian, usai mencetak rekor tertinggi sejak pandemi, 74 kematian per Selasa (18/1).

Melihat tren penularan COVID-19 yang melonjak di banyak negara, pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai COVID-19 tampaknya tak berakhir menjadi endemi. Ia menduga penyakit ini akan menjadi serupa seperti campak.

"COVID-10 cenderung tidak akan menjadi endemik. Tren terkini menunjukkan potensinya sebagai penyakit epidemi seperti campak," beber Dicky, Rabu (19/1/2022).

"Artinya COVID-19 akan selalu menyebar pada populasi yang tidak divaksinasi atau menurun imunitasnya," sambung Dicky.

Meski begitu, risiko penyakit mengikuti pola infeksi epidemi sebenarnya bisa dihilangkan. Syaratnya masih mengacu pada strategi pengendalian pandemi COVID-19.

"Vaksin yang efektif cegah infeksi dan penularan atau dikurangi dengan tindakan 3T 5M. Infeksi alami (antibodi yang dihasilkan pasca terpapar COVID-19) sulit menghilangkan epidemi," tutup Dicky.



Simak Video "Sadar Bahaya Omicron, Masyarakat Mulai Percaya Vaksin Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)