Kamis, 20 Jan 2022 09:32 WIB

Kabar Melegakan dari WHO, Darurat Kesehatan COVID-19 Bisa Berakhir di 2022

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut COVID-19 tak akan pernah hilang, tetapi ada peluang status 'darurat kesehatan masyarakat' bisa diakhiri tahun ini, 2022.

Hal tersebut diutarakan pejabat senior WHO dalam agenda virtual forum ekonomi dunia Selasa (17/1).

"COVID-19 tidak akan hilang tahun ini, kami melihat COVID-19 tak bisa diberantas. Satu hal yang dapat kami akhiri adalah status darurat kesehatan masyarakat," kata Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO, Michael Ryan, dikutip dari CNBC.

"Ini kematian, rawat inap, gangguan yang menyebabkan tragedi, bukan virus. Virus adalah kendaraan."

Meski begitu, ada beberapa harapan dan sikap optimisme yang diungkap Ryan. Menurutnya, tahun ini bisa menandai titik balik dalam pandemi.

Status darurat kesehatan masyarakat bisa berakhir dengan catatan akses vaksin merata atau adil ke seluruh dunia. Khususnya, negara-negara miskin yang kesulitan mengakses stok vaksin COVID-19.

"Ya, kami memiliki kesempatan untuk mengakhiri darurat kesehatan masyarakat tahun ini," katanya, kembali meyakinkan.

"Ini tidak akan berakhir jika kita tidak [mengatasi masalah ini], tragedi ini akan terus berlanjut," tambahnya.

Meski nantinya status darurat kesehatan masyarakat berakhir, COVID-19 tetap menjadi ancaman bagi masyarakat. Pun jika statusnya berubah dari pandemi menjadi virus endemik.

"Malaria endemik, HIV endemik membunuh ratusan ribu orang setiap tahun, endemik tidak berarti 'baik', itu hanya berarti 'di sini selamanya,'" katanya.

"Apa yang perlu kita lakukan adalah mencapai tingkat kejadian penyakit yang rendah dengan vaksinasi maksimum dari populasi kita, menekan kematian hingga nol kasus. Itulah akhir dari keadaan darurat dalam pandangan saya, itulah akhir dari pandemi."

Ketidaksetaraan vaksin

Sepanjang diskusi panel, ketidakadilan vaksin dilukiskan sebagai penghalang kemajuan melawan COVID-19. Termasuk saat banyak negara kaya 'curi start' vaksinasi booster, sementara negara lain masih kesulitan mencapai cakupan vaksinasi lengkap minimal WHO yakni 40 persen di akhir tahun 2021.

Desember lalu misalnya, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan vaksin booster malah berisiko memperpanjang pandemi, alih-alih cepat mengakhirinya.

"Tidak ada negara yang dapat 'tiket' jalan keluar dari pandemi karena vaksin booster," sebutnya kala itu.

"Program booster cenderung memperpanjang pandemi, daripada mengakhirinya, dengan mengalihkan pasokan ke negara-negara yang sudah memiliki cakupan vaksinasi tingkat tinggi, memberi virus lebih banyak kesempatan untuk menyebar dan bermutasi," katanya kepada wartawan.

(naf/up)