Rabu, 26 Jan 2022 18:30 WIB

Pakar Sebut Omicron RI 'Ngegas' Justru karena Gejalanya Mirip Flu Biasa

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sejumlah kendaraan ambulans dan bus sekolah yang membawa pasien COVID-19 antre untuk masuk kawasan Rumah Sakit Darurat  COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta, Kamis (10/6). Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Indonesia kini kembali diterpa lonjakan kasus COVID-19 akibat cepatnya penyebaran varian Omicron. Di samping itu, gejala infeksi Omicron diketahui amat mirip flu biasa. Namun hal tersebut tak sepenuhnya pertanda baik. Mengapa?

"Otomatis karena tingkat penularannya jauh lebih tinggi daripada varian Delta dan boleh dikatakan mirip dengan flu biasa, risiko penularannya memang lebih tinggi terkait juga dengan tingkah laku dari orang yang terinfeksi," ujar Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman, Wien Kusharyoto, dalam konferensi pers 'Riset Pengembangan Vaksin COVID-19 untuk Indonesia Pulih Bersama Bangkit Perkasa', Rabu (26/1/2022).

"Apakah kemudian ketika terinfeksi katakanlah langsung mengambil langkah-langkah agar kemudian virusnya yang menginfeksi tersebut tidak tertular ke orang lain," imbuhnya.

Lantaran gejala Omicron mirip dengan flu biasa, Wien menyebut terdapat risiko pasien tidak menyadari dirinya tengah terinfeksi varian Omicron. Walhasil, pasien tersebut tak menerapan tindak lanjut sebagaimana harus dilakukan pasien COVID-19. Kemungkinan seperti inilah yang berisiko menimbulkan naiknya kasus COVID-19.

Vaksin COVID-19 mempan?

Menurut Wien, perlindungan dari vaksin COVID-19 menurun dalam waktu beberapa bulan setelah suntikan dosis lengkap. Walhasil, vaksinasi COVID-19 booster perlu digencarkan untuk meningkatkan kembali perlindungan dari paparan Omicron.

Bahkan, booster pun mengalami penurunan perlindungan dalam waktu hitungan bulan. Akan tetapi, penurunannya tidak sebanyak hanya dua dosis vaksin COVID-19. Mengingat, gelombang baru COVID-19 RI disebut-sebut bakal tiba di Februari atau Maret 2022.

"Mungkin dan mudah-mudahan, ini tidak terlalu membebani rumah sakit seperti yang sudah terjadi sebelumnya ada gelombang varian Delta. Itu yang diharapkan. Artinya, yang bersangkutan masih bisa cukup isolasi mandiri, tidak harus dirawat di rumah sakit karena tingkat keparahan Omicron lebih rendah daripada varian Delta," pungkas Wien.



Simak Video "Dokter Paru Jelaskan Alasan 89% Gejala Omicron Batuk Kering"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)