Jumat, 28 Jan 2022 22:00 WIB

PTM Tak Disetop, Pakar Ingatkan Rawat Inap COVID-19 Omicron Anak Lebih Tinggi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Sejumlah siswa-siswi mengikuti pembelajaran tatap muka 100 persen di kawasan SDN Rorotan 02 Pagi, Rorotan, Jakarta Utara, Kamis (27/1). Pembelajaran tatap muka ini berlangsung di tengah melonjaknya kasus Omicron. Pembelajaran tatap muka. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Pemerintah dengan tegas tak bakal menyetop pembelajaran tatap muka (PTM) di tengah melonjaknya Omicron. Meski belakangan para pakar termasuk lima organisasi profesi spesialis di Indonesia mendesak PTM disetop, Menko Marinves Luhut Binsar Pandjaitan meyakini kasus COVID-19 termasuk Omicron di Tanah Air dalam tahap terkendali.

Bila prediksi lonjakan Omicron terjadi, Luhut menyebut fasilitas kesehatan kini sudah sangat siap ketimbang wabah gelombang lalu saat Indonesia diamuk COVID-19 Delta. Sementara, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama mengingatkan tren kasus rawat inap COVID-19 anak cukup tinggi di beberapa negara, bahkan melampaui tren kasus Delta.

Amerika Serikat misalnya, angka anak dirawat di RS hingga awal Januari meningkat dari 2,6 per 100 ribu pada pekan sebelumnya.

"Kalau dibandingkan dengan angka awal Desember maka ada peningkatan 48 persen, peningkatan tertinggi pada kelompok umur ini selama pandemi COVID-19," beber Prof Tjandra dalam keterangan tertulis Selasa (25/1/2022).

Peningkatan serupa terlihat pada laporan pakar Afrika Selatan. Menandakan infeksi Omicron pada anak tak boleh disepelekan.

"Dengan data dari 56.164 COVID-19 yang masuk RS, menemukan bahwa angka masuk RS ('admission rate') anak di bawah 4 tahun ternyata 49 persen lebih tinggi pada Omicron dibandingkan Delta."

Belum lagi, kemunculan laporan komplikasi berat pada anak akibat COVID-19. Adalah multisystem inflammatory in children associated with COVID-19 (MIS-C").

"Dan bukan tidak mungkin juga ada komplikasi Long Covid. Pendapat para pakar beberapa negara, antara lain dari South Dakota Amerika Serikat, juga mulai membicarakan kemungkinan Long COVID pada anak ini, walaupun memang tentu perlu penelitian lebih lanjut. Tetapi kita tentu tidak ada yang ingin ada dampak seperti ini terjadi pada anak-anak kita," pesan dia.



Simak Video "Komunitas Relawan di Shanghai Turun Tangan Bantu Warga yang Karantina"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)