ADVERTISEMENT

Minggu, 30 Jan 2022 12:31 WIB

Kemenkes Beberkan Risiko Kematian di Tengah 'Dejavu' Lonjakan COVID-19

Vidya Pinandhita - detikHealth
Strips of newspaper with the words Omicron and Covid-19 typed on them. Omicron variant of COVID-19. Black and white. Close up. Penjelasan Kemenkes perihal risiko kematian di tengah lonjakan COVID-19 RI kini. Foto: Getty Images/iStockphoto/Professor25
Jakarta -

Indonesia kini kembali diterpa lonjakan kasus COVID-19 terkait menyebarnya varian Omicron. Mengingat tingkat keparahan infeksi Omicron relatif lebih ringan dibanding varian Corona lainnya seperti Delta pada Juli 2021, Kementerian Kesehatan yakin risiko kematian COVID-19 RI di gelombang kali ini lebih terkendali.

"Kemarin kita ketahui jumlah penambahan kasus positif ya hampir dua minggu belakangan ini terus bertambah. Kemarin kita sampaikan pada angka 9.900 kasus konfirmasi positif. Tapi di sisi lain kita juga melihat bahwa angka kematian kita masih di bawah 10," kata Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi dalam diskusi daring, Sabtu (29/1/2022).

"Angka kematian ini terus-menerus padat oleh jumlah yang cukup terkendali. Artinya kalau kita lihat bahwa kalau terjadi peningkatan kasus cukup tinggi tapi tidak diiringi tingkat keparahan atau kematian," sambungnya.

Ia menambahkan, cepatnya penyebaran varian Omicron sangat memungkinkan menjadi latar belakang lonjakan kasus COVID-19 RI kini. Namun menurutnya, upaya menekan laju penularan masih bisa dilakukan mengingat kini, tingkat keterisian rumah sakit secara nasional masih berada di angka 11 persen.

"Tingkat kematian juga kalau kita lihat dari tingkat perawatan rumah sakit sampai saat ini secara nasional 11,68 persen masih jauh di bawah 60 persen. Moga-moga walaupun konfirmasi positif terjadi peningkatan, tapi artinya masih bisa kita lakukan pengendalian untuk menekan laju penularan," pungkas dr Nadia.



Simak Video "Omicron Masuk RI, Ketua Satgas IDI Singgung Karantina 'Rp 40 Juta'"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT