ADVERTISEMENT

Senin, 31 Jan 2022 07:15 WIB

Virus Neocov Tidak Berhubungan dengan COVID, Masih Kerabat MERS

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Blood cells, molecule of DNA forming inside the test tube. 3D illustration, conceptual image of science and technology. Virus Neocov masih kerabat dekat MERS. (Foto: Getty Images/iStockphoto/ktsimage)
Jakarta -

Ditemukannya virus NeoCov atau Neoromicia Capensis oleh peneliti asal Wuhan membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turun tangan menyelidiki potensi penularan virus tersebut.

WHO menyatakan bahwa virus tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut untuk melihat apakah menimbulkan ancaman bagi manusia.

Dikutip dari laman Live Mint, para peneliti mengungkapkan Neocov bukan varian baru coronavirus diseases (COVID-19), namun masih kerabat dekat virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

"Virus ini ditemukan pada populasi kelelawar di Afrika Selatan dan saat ini hanya menyebar di antara hewan. Hanya satu mutasi sudah cukup bagi virus untuk dapat menyusup ke sel manusia," beber WHO.

Menurut peneliti China, Neocov membawa kombinasi potensial dari tingkat kematian CoV tinggi MERS (satu dari setiap tiga orang yang terinfeksi meninggal) dan tingkat penularan tinggi yang sama dengan virus corona SARS-CoV-2 saat ini.

Virus Neocov bersifat zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia dan dapat ditularkan melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan. Hanya saja, penyakit ini akan menjadi ancaman serius jika ditularkan ke manusia.

Para peneliti juga mencatat bahwa virus Neocov ini tidak bisa dinetralisir oleh antibodi vaksin yang ditargetkan untuk SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19.

Simak juga 'Blak-blakan Kemenkes: Corona Lebih Jinak dari SARS & MERS':

[Gambas:Video 20detik]



(kna/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT