Maaf, Pakar Bawa Kabar Kurang Enak soal COVID-19 Jadi Endemik

ADVERTISEMENT

Maaf, Pakar Bawa Kabar Kurang Enak soal COVID-19 Jadi Endemik

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Kamis, 03 Feb 2022 18:30 WIB
Corona Viruses against Dark Background
Penjelasan pakar perihal potensi COVID-19 menjadi endemi. Foto: Getty Images/loops7
Jakarta -

Seorang profesor di University of New South Wales (UNSW) di Sydney, Raina Maclntyre, mengatakan butuh waktu sampai bertahun-tahun agar COVID-19 bisa bertransisi menjadi endemik. Hal ini karena jumlah kasus COVID-19 masih terus meningkat selama beberapa hari hingga minggu.

"Jika jumlah kasus masih mengalami peningkatan, itu (transisi ke endemi) terjadi secara perlahan biasanya selama bertahun-tahun," beber Maclntyre yang dikutip dari CNBC International, Kamis (3/2/2022).

"Meskipun sebuah penyakit bisa menjadi endemik, jumlah kasusnya tidak bisa berubah dengan cepat, dan ini terlihat pada virus Corona," lanjutnya.

Perkiraan COVID-19 masih lama untuk mencapai endemik juga diteliti menggunakan persamaan matematis. Dalam studi tersebut, R0 atau jumlah rata-rata infeksi yang dihasilkan pada setiap kasus COVID-19 masih di atas 1. Bahkan para ahli di Imperial College London memperkirakan R0 akibat varian Omicron bisa lebih tinggi dari 3.

"Jika R0 sebuah penyakit lebih besar dari 1, pertumbuhannya eksponensial, artinya virus menjadi lebih umum dan masih dalam fase epidemi," kata Maclntyre.

Saat R0 sebuah penyakit masih lebih tinggi dari 1, lanjut Maclntyre, akan terjadi gelombang penularan yang berulang. Biasanya ini terjadi pada penyakit yang penularannya melalui saluran pernapasan.

Maclntyre mencatat kasus seperti ini terlihat pada penyakit cacar, campak, dan influenza yang masih terjadi selama berabad-abad. Pola ini juga terlihat pada COVID-19, yang kini sudah mengalami empat gelombang besar dalam dua tahun terakhir.

"COVID-19 tidak akan secara ajaib berubah menjadi endemik seperti malaria yang memiliki tingkat penularan yang konstan untuk waktu yang lama," tegas dia.

"Itu masih akan terus menyebabkan gelombang epidemi, terlebih jika didorong oleh berkurangnya kekebalan vaksin, kemunculan varian baru yang bisa lolos dari perlindungan vaksin, belum divaksinasi, hingga faktor kelahiran dan migrasi," imbuhnya.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan Agar Pandemi COVID-19 Bisa Menjadi Endemi?

Agar COVID-19 bisa beralih dari pandemi menjadi endemi, ada hal-hal yang harus dilakukan. Salah satunya adalah dengan mendapatkan vaksin tambahan atau booster.

Menurut peneliti UNSW, ada hal yang membuat COVID-19 sulit bertransisi dari epidemi menjadi endemi, yaitu masih banyak orang yang tidak divaksinasi, sehingga membuat virus lebih cepat menyebar. Selain vaksin dosis 1 dan 2, vaksin booster juga sangat dibutuhkan.

"Inilah alasannya mengapa membutuhkan vaksin tambahan (booster) dan ventilasi di ruangan yang baik. Ini dilakukan untuk menjaga jumlah rata-rata infeksi (R0) tetap di bawah satu, sehingga kami bisa hidup dengan virus tanpa ada gangguan besar pada masyarakat," jelas Maclntyre.

Senada dengan itu, American Lung Association juga terus menegaskan pentingnya vaksinasi agar COVID-19 bisa bertransisi dari pandemi menjadi endemi. Semakin banyak orang yang divaksinasi, perlindungan yang terbentuk akan semakin besar.

"Agar COVID-19 menjadi endemik, cukup banyak orang yang perlu memiliki perlindungan kekebalan darinya agar menjadi endemik," kata American Lung Association.



Simak Video "Situasi RS China di Tengah Tsunami Covid-19 yang Kembali Terjadi"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT