ADVERTISEMENT

Selasa, 08 Feb 2022 11:06 WIB

Kena COVID, Jangan Disembunyikan!

20detik, 20detik - detikHealth
Jakarta -

Jakarta - Pandemi memang telah melanda selama kurang lebih dua tahun. Namun, masih saja ada beberapa orang yang enggan terbuka jika ia terinfeksi COVID. Padahal, keterbukaan pasien sangat penting untuk kebutuhan tracing dan kewaspadaan masyarakat sekitar.

"Kalau saya (sebagai) dokter di rumah sakit ya memang kami tidak boleh memberitakan, memberitahu identitas pasien yang sakit. Sakit apapun, bukan COVID saja. Tapi saya kira untuk COVID ini lebih baik yang bersangkutan sendiri yang mengatakan pada teman-temannya," kata Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), DR.dr.Erlina Burhan MSc.Sp.P (K) di acara e-Life detikcom.

Tenaga medis memang tidak berhak memberitakan identitas pasien. Namun, dr. Erlina juga tidak membenarkan pasien untuk sembunyi-sembunyi, terutama jika persoalannya adalah COVID.

"Yang bersangkutan ya pasiennya mengatakan, 'Mohon doanya saya terkonfirmasi positif,' nggak papa kan. Jadi orang banyak yang mendoakan, dan yang bersangkutan juga tidak usah sembunyi-sembunyi. Kalau tiba-tiba nggak muncul di tempat kerja, atau tidak muncul di acara keluarga, orang tahu. Jadi nggak juga kan cari-cari alasan berbohong dan lain sebagainya," jelasnya.

Epidemiolog dan Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane juga sependapat dengan dr. Erlina. Menurutnya, informasi terkait jumlah pasien itu penting untuk diinfokan ke masyarakat, meski tak menyebut identitasnya.

"Kalau untuk kerahasiaan memang ada, yang dirahasiakan itu biasanya adalah identitas yang berafiliasi pada 'orang'. Tetapi jumlah di mana yang jadi orang tempat waktu itu harus diumumkan oleh pemerintah. Supaya masyarakat tahu, 'Oh Omicron sudah masuk ke Indonesia.' Itu merupakan bagian dari komunikasi risiko dan kewaspadaan bagi masyarakat," terang Masdalina.

Selain itu, Masdalina juga menggarisbawahi pentingnya keterbukaan pasien COVID. Hal ini sangat penting untuk kebutuhan tracing.

"Awal-awal dulu bahwa COVID itu seolah-olah penyakit yang menjadi aib. Yang boleh membuka itu dirinya sendiri kepada teman-teman dan komunitasnya dan mereka yang terkonfirmasi untuk kebutuhan tracing. Karena kalau untuk kebutuhan pengendalian biasanya ada form penyelidikan epidemiologi dan form tracing di mana seluruh kontak erat itu akan didata lalu dihubungi oleh petugasnya untuk mereka melakukan testing dan melakukan isolasi dan karantina bagi yang positif dan kontak erat," jelasnya.

(mjt/)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT