Sabtu, 12 Feb 2022 20:31 WIB

Badan Obat Eropa Telusuri Laporan Gangguan Menstruasi Usai Vaksinasi Corona

Hartaty Varadifa - detikHealth
Program vaksinasi massal di Tangerang terus dilakukan. Vaksinasi COVID-19 kini sasar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan individu berkebutuhan khusus (IBK). Vaksin COVID-19. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Badan Pengawas Obat Eropa atau European Medicines Agency (EMA) melakukan investigasi terhadap laporan yang menyebut sebagian wanita mengalami gangguan menstruasi setelah menerima dosis vaksin COVID-19 Pfizer dan Moderna.

Hal tersebut dilaporkan pada Jumat 11 Februari 2022. Diketahui bahwa terdapat wanita mengalami pendarahan menstruasi yang berat dan ada juga wanita yang tidak menstruasi.

Dikutip dari Reuters pada Sabtu (12/2/2022), investigasi masih belum menemukan kejelasan apakah ada hubungan sebab akibat antara kedua vaksin jenis mRNA tersebut dengan laporan yang ditemukan.

Menurut sebuah penelitian terbaru oleh National Institutes of Health, vaksinasi COVID-19 memang menyebabkan perubahan kecil sementara terhadap siklus menstruasi. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari hampir 4.000 pengguna aplikasi smartphone yang melacak siklus menstruasi.

EMA sendiri sempat mengatakan pada bulan Desember tidak menemukan hubungan antara perubahan siklus menstruasi dan vaksin COVID-19, setelah sebuah laporan penelitian di Norwegia menunjukkan beberapa wanita mengalami menstruasi yang lebih berat setelah diimunisasi.

Pharmacovigilance Risk Assessment Committee (PRAC) untuk saat ini memutuskan untuk mengevaluasi semua data yang tersedia, termasuk laporan dari pasien dan profesional kesehatan, uji klinis serta literatur yang diterbitkan.

EMA menambahkan sampai sejauh ini tidak ada data yang menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 bisa mempengaruhi kesuburan.



Simak Video "Fenomena Vaksin Covid-19 Kedaluwarsa di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)