Menag Batasi Toa Masjid 100 dB, Apa Sih Dampak Suara Terlalu Keras?

ADVERTISEMENT

Menag Batasi Toa Masjid 100 dB, Apa Sih Dampak Suara Terlalu Keras?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Selasa, 22 Feb 2022 08:33 WIB
Old white speaker in the corner of an old mosque in a rural area in Indonesia
Ilustrasi dampak suara terlalu keras terhadap pendengaran. Foto: Getty Images/iStockphoto/Jamaludin Yusup
Jakarta -

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan surat edaran yang mengatur penggunaan toa masjid dan musala. Disebutkan, volume pengeras suara paling besar di 100 dB (seratus desibel). Memangnya, seperti apa dampak suara terlalu keras, khususnya pada kesehatan pendengaran?

Dikutip dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), gangguan pendengaran dapat disebabkan suara keras di dekat telinga. Contohnya, suara petasan. Pada banyak kasus lainnya, gangguan pendengaran terjadi seiring waktu akibat paparan berulang suara keras.

Semakin keras suara, semakin pendek waktu yang dibutuhkan untuk terjadi gangguan pendengaran. Semakin lama paparan, semakin besar risiko gangguan pendengaran. Risiko ini semakin besar jika orang yang terpapar suara tidak menggunakan pelindung pendengaran.

Seperti apa 100 dB?

Suara diukur dalam satuan desibel (dB). Sebagai gambaran, bisikan ada di sekitar 30 dB, percakapan normal di kisaran 60 dB, dan mesin pada sepeda motor yang menyala sekitar 95 dB.

Kebisingan di atas 70 dB dalam jangka waktu yang panjang dapat merusak pendengaran. Lebih lagi jika suara mencapai lebih dari 120 dB, kerusakan pada telinga dapat terjadi langsung.

Namun pada dasarnya, kerasnya suara yang memapar telinga tidak sama dengan besaran desibel, sebab kenyaringan tidak berbanding lurus dengan intensitas suara.

Dua suara dengan intensitas yang sama, belum tentu sama kerasnya. Keras suara mengacu pada bagaimana suara dapat terdengar. Suara yang terdengar keras di ruangan sepi mungkin tidak akan terdengar jelas saat seseorang berada di sudut jalan dengan padat lalu lintas, meski intensitas suaranya sama.

Risiko kerusakan pendengaran meningkat akibat intensitas suara, bukan kenyaringan suara. Jika seseorang perlu meninggikan suara agar terdengar sejauh mungkin, tingkat kebisingan di lingkungan sekitar kemungkinan besar memiliki intensitas suara di atas 85 dB dan dapat merusak pendengaran seiring waktu.



Simak Video "Menakuti Bocah Pakai Suara 'Cekikikan' Hantu Bisa Timbulkan Trauma"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT