ADVERTISEMENT

Selasa, 22 Feb 2022 17:55 WIB

Cara Tepat Menyampaikan Belasungkawa Menurut Psikolog

Nada Celesta - detikHealth
Jakarta -

Saat keluarga atau kerabat mengalami kedukaan, penting bagi kita untuk hadir dan menyampaikan belasungkawa. Persoalan ini tentu perlu diperhatikan dengan baik. Jangan sampai ucapan belasungkawa ini bukannya menguatkan pihak yang berduka, tapi justru menambah lukanya.

Menurut Psikolog Klinis TigaGenerasi Psychology Center, Utari Krisnamurthi, M.Psi., penting untuk menyampaikan bentuk empati dan validasi kepada pihak yang berduka. Kemudian, sampaikan juga bahwa ia tak sendiri.

"Misalnya, 'Aku turut sedih dengan kejadian ini, ini pasti susah ya, buat kamu.' Dengan menyampaikan, 'Aku turut sedih,' itu bagian dari empati. 'Pasti susah ya,' itu bentuk validasi, seakan memahami kondisinya dia, kehilangan seseorang yang disayang," jelas Utari di acara e-Life detikcom.

"Ikuti juga dengan kalimat bahwa mereka tidak sendiri. Kita sebagai teman itu siap lho untuk menemani dia dalam memproses kedukaan tersebut. Terutama kalau teman terdekat gitu ya, atau teman terdekat dari orang tersebut. Jadi, kita sampaikan bahwa dia nggak sendirian," lanjutnya.

Agar tak menyakiti pihak yang berduka, hindari mengatakan hal-hal yang bersifat penasaran. Tak disarankan juga untuk memberi saran-saran yang tidak perlu.

"Sebaiknya jauhi pertanyaan yang mengarah ke penasaran, misalnya, nanya 'Kenapa kok bisa kejadian seperti ini? Apa yang terjadi? Apakah ada firasat akan ditinggalkan?' Atau, 'Kok bisa sih kayak gini? Harusnya jangan gini, gini.' Padahal orangnya kan udah nggak ada, jadi udah nggak bisa ada kata-kata 'harusnya' dan 'seandainya', atau menyesali kejadian tersebut," kata Utari.

Terkadang, memberi dukungan langsung berupa tindakan juga bisa dilakukan. Namun, perlu dipahami bahwa setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk memproses kedukaan. Sehingga, apabila pihak yang berduka sedang tidak ingin dibantu, maka hal ini harus dimaklumi.

"Boleh dengan misalnya, action-nya adalah kita kirim makanan, atau mungkin kirim bunga, ke orang yang sedang mengalami kedukaan. Atau datang ke rumahnya, gitu misalnya untuk men-support aja, sekadar men-support. Atau, nelfon kayak 'Gimana kabar lo? Lo udah ngapain aja, udah tidur belum?' itu proper juga, kok," terang Utari.

"Tapi, kalau orangnya emang nggak mau ditelepon, atau nggak mau diganggu, kita juga perlu respect dengan keputusan tersebut. Tidak perlulah dipaksa atau merasa kayak, 'Kok dia nggak sopan?' tiap orang punya caranya sendiri untuk memproses. Jadi, boleh kita menawarkan diri kita untuk bantu dia, tapi kalau ditolak, ya udah nggak papa," tutupnya.

(vys/vys)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT