Selasa, 01 Mar 2022 19:50 WIB

Muncul Kabar Lockdown Gegara COVID Meroket, Warga Hong Kong Borong Supermarket

Vidya Pinandhita - detikHealth
A man wearing a face mask looks for food next to the empty shelves of fruit as residents fear a fresh food shortage at a market in Hong Kong, Monday, Feb. 28, 2022. Hong Kong on Monday reported a record-high 34,466 infections, with health authorities saying that a lockdown has not been ruled out as fatalities continued to climb. (AP Photo/Vincent Yu) Foto: AP/Vincent Yu
Jakarta -

Muncul kabar bakal 'lockdown' gegara kasus COVID-19 meroket, warga Hong Kong berbondong-bondong memborong dagangan supermarket dan menimbun produk. Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, meminta warganya untuk tetap tenang, terlebih menjelang pengujian COVID-19 massal.

Media lokal melaporkan tes COVID-19 massal bakal diwajibkan mulai 17 Maret mendatang. Kabar tersebut membuat warga khawatir bakal dipaksa mengisolasi, serta dipisahkan dengan anggota keluarga yang diketahui positif COVID-19.

Lam mengimbau masyarakat untuk tidak termakan ketakutan yang merebak. Sebab, ia menyebut pasokan makanan dan barang tetap normal.

"Masyarakat tidak perlu khawatir, harus tetap waspada dan memperhatikan informasi yang disebarluaskan oleh pemerintah agar tidak disesatkan oleh rumor yang tidak benar," tegas Lam, dikutip dari The Straits Times, Selasa (1/3/2022).

Tertulis dalam surat kabar Sing Tao, para pejabat Hong Kong bakal melakukan tes COVID-19 kepada 7,4 juta warga di kotanya. Para pejabat menargetkan tiga pengujian dalam sembilan hari, dibarengi penguncian untuk memaksimalkan upaya penanganan COVID-19.

Pengecualian 'lockdown' akan diberikan pada orang-orang yang harus membeli makanan atau mencari perawatan medis.

Hong Kong kini diterpa lonjakan kasus COVID-19 seiring merebaknya varian Omicron. Akibat jumlah kasus kematian pasien COVID-19 yang juga meningkat, lusinan jenazah harus menunggu di rumah sakit kecelakaan dan unit gawat darurat.

"Jenazah-jenazah ini sekarang membutuhkan waktu lebih lama untuk menunggu pengumpulan karena sumber daya (petugas) sangat terbatas," kata Kepala Asosiasi Dokter Umum, Tony Ling, menegaskan kurangnya tenaga kerja dan kapasitas penyimpanan jenazah, dikutip dari Reuters, Selasa (1/3).



Simak Video "Kasus Covid-19 Meningkat Tajam, Hong Kong Pertimbangkan Opsi Lockdown"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/fds)