Sabtu, 05 Mar 2022 19:00 WIB

Beneran Ada! Pria Ini Idap Sindrom Langka Air Mata Buaya, Begini Gejalanya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Womans eye with several teardrops hanging on her eyelashes Sindrom air mata buaya (Foto: iStock)
Jakarta -

Ternyata beneran ada, pria di China didiagnosis mengidap sindrom air mata buaya. Kondisi medis langka yang menyebabkan dirinya meneteskan air mata setiap makan.

Pasalnya, menangis biasanya dipicu reaksi emosional seperti kesedihan, rasa sakit, atau tawa yang tak terkendali, tak ada kasus sebelumnya seseorang menangis karena sedang makan.

Tahun lalu, seorang pria tua, yang disebut 'Mr Zhang' oleh media China, dilaporkan mulai meneteskan air mata ketika dia makan. Dia tidak terlalu memikirkannya pada awalnya, tetapi tangisannya menjadi lebih buruk ketika dia perlu mengunyah lebih lama dan ini mengganggu kehidupan sosialnya.

Zhang akhirnya mulai menghindari makan di depan umum, karena takut air mata mengalir di wajahnya, di depan orang-orang, jadi dia menjadi terisolasi. Untungnya, dia menyadari bahwa ini bukanlah sesuatu yang bisa dia sembunyikan selamanya, ia segera memutuskan menemui dokter.

Inikah penyebabnya?

Dikutip dari Oddity Central, ia mengalami kelumpuhan wajah yang memengaruhi aktivitas kelenjar lakrimal, terutama yang ada di mata kirinya. Selama masa pemulihan, serabut saraf wajah menjadi salah arah, dan saraf saliva akhirnya menginervasi kelenjar lakrimal, bukan kelenjar submandibular.

Hasil dari kesalahan arah saraf wajah ini adalah rangsangan seperti bau atau rasa makanan, bukannya menyebabkan air liur malah merangsang kelenjar lakrimal untuk menghasilkan air mata.

Gejala sindrom air mata buaya bervariasi dari pasien ke pasien, dan kasus yang lebih ringan umumnya ditangani dengan konseling dan pemantauan rutin. Dalam kasus yang lebih parah, pengobatan yang paling populer adalah suntikan toksin botulinum ke kelenjar lakrimal, untuk menghentikan transmisi sepanjang serat saraf yang diregenerasi secara menyimpang ke kelenjar yang terdampak. Efek toksin bertahan sekitar 6 bulan.

Intervensi bedah biasanya menjadi solusi dari kasus langka ini, begitu juga dengan apa yang terjadi pada Zhang. Kondisinya pasca dioperasi meningkat pesat, tetapi sumber tidak menjelaskan apakah pemulihan tersebut adalah kesembuhan permanen.



Simak Video "Sikap WHO Terkait Pencabutan Hak Aborsi 'Roe v Wade' di AS"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)