Studi di Arab Saudi, Golongan Darah Ini Lebih 'Kebal' COVID-19

ADVERTISEMENT

Studi di Arab Saudi, Golongan Darah Ini Lebih 'Kebal' COVID-19

Razdkanya Ramadhanty - detikHealth
Selasa, 08 Mar 2022 13:30 WIB
closeup of a blood bag with a label with the text O RH positive on the doctors office
Ilustrasi golongan darah. (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Sudah lebih dari dua tahun, virus Corona masih mengancam kesehatan masyarakat dunia. Selain badan yang kurang sehat, imun yang rendah, masyarakat juga bisa mudah terserang COVID-19 karena golongan darah yang mereka miliki.

Dikutip dari Journal of Epidemiology and Global Health yang diterbitkan Springerlink pada 3 Januari 2022, ada kaitan antara 'kekebalan' seseorang terhadap COVID-19 dengan golongan darah, artinya orang dengan golongan darah tertentu mungkin lebih 'kebal' terinfeksi COVID-19. Penelitian dilakukan pada 370 pasien di Arab Saudi yang terinfeksi COVID-19 dengan golongan darah berbeda-beda.

Penelitian diklasifikasikan menjadi dua kelompok berdasarkan jenis kelamin dan usia.

Pada beberapa jurnal dan artikel yang belakangan dipublikasikan, disebutkan tipe golongan A tinggi risiko terinfeksi COVID-19. Namun temuan yang dilakukan para peneliti di Arab Saudi, menemukan hasil berbeda.

"Artikel melaporkan pengamatan yang bertentangan, menunjukan bahwa individu dengan golongan darah tipe B lebih rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2 daripada tipe A," tulis jurnal tersebut, dikutip Selasa (8/3/2022).

Lebih lanjut, penelitian itu mengungkapkan bahwa individu dengan golongan darah tipe B dan AB memiliki risiko lebih tinggi dites positif COVID-19.

"Sedangkan individu tipe O lebih kecil kemungkinannya terpapar COVID-19," tambah keterangan jurnal tersebut.

Hasil penelitian menemukan golongan darah tipe O berisiko rendah dites positif COVID-19 dan cukup terlindungi saat terinfeksi COVID-19, tak bergejala berat. Kemudian untuk golongan darah B, memiliki tingkat COVID-19 lebih tinggi, tetapi gejala yang dilaporkan terbilang masih ringan.

"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi ukuran sampel yang lebih besar di antara individu-individu dari kelompok etnis yang berbeda," tulis hasil penelitian tersebut.



Simak Video "Seputar Temuan Virus Mirip Covid-19 pada Kelelawar di China Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(any/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT