Selasa, 08 Mar 2022 21:00 WIB

Viral Polemik Paris Fashion Week, Kepancing Ikut Nyinyir? Catat Saran Ahli Jiwa

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Ilustrasi Main HP Catatan psikolog untuk netizen yang ingin ikut berkomentar perihal viral polemik Paris Fashion Week. Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Belakangan ini, banyak netizen geram dan kesal dengan sejumlah brand Indonesia yang dinilai melakukan pembodohan masyarakat terkait tagar Paris Fashion Week. Pasalnya, sejumlah influencer atau selebgram yang melakukan tur ke Paris kerap InstaStory dan mengunggah tagar #ParisFashionWeek dalam postingan mereka, dengan menunjukkan beberapa busana setiap brand.

Karenanya, banyak netizen mengira brand lokal fashion hingga skincare bahkan makanan seperti Geprek Bensu, benar-benar diundang dalam agenda Paris Fashion Week. Belakangan terungkap, aktivitas sejumlah brand sama sekali tak terkait Paris Fashion Week, melainkan hanya kegiatan fashion show di tengah Paris Fashion Week yang memang tengah berlangsung.

"Yakali Geprek Bensu di Paris Fashion Week Komedi banget lu kira Bazar Ramadhan," komentar salah satu netizen di Twitter.

"Ini produk makanan kenapa ikut fashion show dah? Lagi juga jelek amat bajunya, norak. Mending bikin gaun dari bulu ayam yang udah dijadiin geprek bensu," timpal netizen lain.

Menurut psikolog klinis Nuzulia Rahma Tristinarum, nyinyir di media sosial bukanlah kritik yang tepat. Jika ingin menyampaikan komentar, sebaiknya hindari kesan meremehkan dan menjatuhkan orang yang dituju.

Perilaku nyinyir malah akan mencerminkan kualitas pikiran dan rasa seseorang. Maka dari itu, Rahma mengingatkan setiap orang sebaiknya mengenali batasan wajar penyampaian kritik.

"Mengkritisi sebuah berita yang salah itu wajar dan boleh dilakukan, namun pastikan dilakukan dengan cara yang tepat," beber Rahma saat dihubungi detikcom Selasa (7/3/2022).

"Nyinyir hanya menunjukkan seperti apa kualitas rasa dan kualitas pikiran kita. Pilihlah perilaku yang menunjukkan kualitas diri yang baik," sambungnya.

Di sisi lain, Rahma juga berpesan agar masyarakat tak melulu latah menelan informasi tanpa mempertanyakan kebenarannya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membiasakan memiliki mindset atau pemikiran kritis.

"Membaca dengan detail. Banyak informasi yang salah terima ketika kita membacanya dengan terburu-buru atau kurang hati hati. Jangan melibatkan perasaan secara 100 persen dan gunakan logika dalam membaca," pesan Rahma.

"Munculkan beberapa pertanyaan di dalam diri untuk menguji berita tersebut. Misalnya, 'apa sih maksudnya?', 'benarkah?', 'apakah mungkin?', 'siapa saja?', 'mana data lainnya ya?'," contoh Rahma.



Simak Video "Mindful Demography, Cara Unik Kurangi Overthinking"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)