3 Fakta Deltacron yang Bisa Jadi Alasan untuk Nggak Panik

ADVERTISEMENT

3 Fakta Deltacron yang Bisa Jadi Alasan untuk Nggak Panik

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Senin, 14 Mar 2022 21:15 WIB
covid omicron variant alert street sign
Fakta Deltacron. (Foto: Getty Images/iStockphoto/franckreporter)
Jakarta -

Para ilmuwan baru-baru ini mengkonfirmasi temuan kasus varian Deltacron, gabungan atau kombinasi dari varian Delta dan Omicron. Temuan tersebut pun dikonfirmasi melalui pengurutan genom yang dilakukan oleh ilmuwan di IHU Méditerranée Infection di Marseille, Prancis.

Bahkan, Badan Keamanan Kesehatan Inggris dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah mengkonfirmasi temuan kasus Deltacron tersebut.

Tentunya kabar yang tak mengenakan ini membuat sejumlah masyarakat khawatir akan adanya gelombang COVID-19 berikutnya. Namun, pakar mengungkap ada beberapa alasan untuk tidak panik. Dikutip dari berbagai sumber, Senin (14/3/2022), ini alasannya.

Belum Menunjukkan Pertumbuhan Secara Eksponensial

Dr Simon-Loriere, ahli virologi di Institut Pasteur di Paris, mengungkapkan bahwa varian rekombinan seperti Deltacron ini masih belum menunjukkan kemampuan untuk tumbuh secara eksponensial meskipun sudah ada setidaknya sejak Januari lalu.

"Ini bukan masalah baru," kata Simon.

Ia juga mengungkap, genom varian rekombinan ini tidak akan mewakili fase baru pandemi. Sebab, gen yang mengandung protein permukaan virus atau dikenal sebagai spike hampir seluruhnya berasal dari Omicron. Sedangkan genom lainnya berasal dari Delta.

"Permukaan virus sangat mirip dengan Omicron, sehingga tubuh akan mengenalinya serta mengenali Omicron," kata Simon.

Kasus Deltacron Rendah

William Lee, kepala petugas sains di Helix, mengungkapkan bahwa kasus varian Deltacron sangat rendah dan tidak akan meningkat menjadi varian yang mengkhawatirkan.

"Fakta bahwa tidak banyak, bahkan dua kasus yang kami lihat berbeda, menunjukkan bahwa itu mungkin tidak akan meningkat ke varian tingkat kekhawatiran," katanya kepada USA Today.

Sejalan dengan Lee, Dr Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis COVID-19 WHO, juga mengungkapkan bahwa tingkat deteksi dari varian Deltacron ini sangat rendah daripada varian COVID-19 lainnya.

"ada tingkat deteksi yang sangat rendah," tuturnya dalam konferensi pers, Rabu (9/3/2022).

Banyak Negara Sudah Menerapkan Vaksin Booster

Profesor Linda Bauld, ilmuwan Inggris yang mempelajari kesehatan masyarakat, memperkirakan kemungkinan besar dampak varian Deltacron tidak seserius gelombang COVID-19 terdahulu. Terlebih, banyak negara sudah memulai vaksinasi booster, bahkan merampungkan cakupan vaksinasi COVID-19 dosis ketiga melampaui 50 persen.

Selain itu, vaksin booster juga berguna untuk mencegah adanya perburukan gejala dari varian-varian COVID-19.

"Saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan varian baru ini akan menantang vaksin kami," ungkapnya.

"Vaksin kami bertahan dengan baik melawan Omicron dan Delta, tetapi tentu saja, kami akan terus melihat variannya. Salah satu alasan mengapa WHO terus mengatakan bahwa kami perlu menekan tingkat infeksi atau penularan lebih rendah di seluruh dunia dan meluncurkan vaksin dengan cepat adalah kami ingin menghindari varian di masa depan yang akan menimbulkan kekhawatiran nyata," lanjutnya lagi.



Simak Video "Seputar Virus Covid-19 yang Diyakini Buatan Manusia"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT