Kasus Terus Menurun Pasca Libur Panjang, Tanda RI Sudah Herd Immunity?

ADVERTISEMENT

Kasus Terus Menurun Pasca Libur Panjang, Tanda RI Sudah Herd Immunity?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Selasa, 15 Mar 2022 09:23 WIB
Pandemi COVID-19 DKI Jakarta makin hari makin terkendali. Salah satu indikatornya persentase kasus positif COVID-19 sudah berada di angka 0,9 persen.
Epidemiolog menyebut herd immunity bukan penyebab RI nihil kenaikan kasus COVID-19 pasca libur panjang. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, media sosial dibuat geger oleh video kemacetan di jalur wisata Puncak, Bogor gegara momen libur panjang. Sejumlah pihak sempat waswas COVID-19 RI bakal melonjak kembali, terlebih mengingat Omicron masih merebak. Namun setidaknya sepekan terakhir, kasus harian COVID-19 RI justru menurun hari ke hari. Mungkinkah pertanda herd immunity sudah tercapai?

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menjelaskan, jumlah kasus yang rendah bisa disebabkan tingkat testing COVID-19 yang rendah. Meski angka yang dilaporkan menurun, tak tertutup kemungkinan virus Corona tetap menyebar dan menginfeksi. Dalam kata lain, tidak adanya lonjakan kasus pasca libur panjang bukan disebabkan herd immunity, melainkan karena tingkat testing yang rendah.

"Tidak ada kenaikan karena testing kita rendah. Apalagi masuk ketiga ini kecenderungannya testingnya menurun, tetapi virus ini tetap menginfeksi," ujarnya saat dihubungi detikcom, Selasa (14/3/2022).

"Herd immunity ya belum (tercapai). Herd immunity masih panjang banget, tapi setidaknya modal imunitas itu saja yang sudah terbentuk yang membuat kesannya ini tidak terjadi," imbuh Dicky.

Di samping itu, Dicky menyinggung pengaruh cakupan vaksinasi menekan kenaikan kasus pasca libur panjang. Meski penularan tetap terjadi, orang-orang yang terinfeksi mungkin bergejala lebih ringan, bahkan sama sekali tidak menyadari dirinya terinfeksi COVID-19 sehingga kenaikan jumlah kasus tak nampak. Walhasil, ia menekankan pentingnya mempercepat keberlangsungan vaksinasi COVID-19.

"Ini adalah dampak positif dari cakupan vaksinasi. Tapi faktor infeksi yang terjadi tanpa disadari kalau tidak dicegah terutama pada kelompok yang belum divaksinasi atau yang rawan ini akan berbahaya. Dalam artian bukan hanya kematian atau masuk rumah sakit dan ICU, tapi juga long COVID," beber Dicky.

"Terakhir adalah bahwa libur panjang atau nanti ada mudik dan sebagainya ini sekali lagi kalau bicara dampak tetap ada, tapi jauh lebih kecil karena adanya imunitas itu," pungkasnya.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT