Rabu, 16 Mar 2022 08:27 WIB

Pilu WNI Lahiran di Malaysia, Dikabarkan Harus Jual Bayi untuk Bayar RS

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Little toes, baby feet wrapped in a heart blanket Foto: Getty Images/iStockphoto/Axiara
Jakarta -

Tagihan rumah sakit bisa menjadi beban yang berat bagi sebagian orang. Beberapa bahkan harus rela menjual barang berharga untuk menutupi biaya rumah sakit.

Namun kisah pilu dialami oleh pasangan suami istri yang harus menjual bayinya karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit.

Dilaporkan situs berita lokal Malaysia, Kosmo, pasangan suami istri asal Indonesia menjual bayi laki-lakinya yang baru lahir seharga RM4000 atau sekitar Rp13 juta karena menghadapi kesulitan akibat pandemi COVID-19.

Pasangan yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat ini baru berusia 20 tahunan ini diberitakan tidak memiliki cukup uang untuk merawat bayi. Mereka memutuskan untuk 'menjual' bayi mereka yang baru lahir untuk membayar tagihan di Rumah Sakit Sultan Haji Ahmad Shah di Temerloh, Malaysia.

Pasangan itu juga disebutkan tidak bekerja dan terbebani ketika rumah kontrakan mereka di Karak kebanjiran tahun lalu.

Keputusan mereka untuk menjual bayi itu menarik perhatian pasangan yang belum memiliki anak sejak menikah sembilan tahun lalu. Mereka membaca tentang pasangan asal Indonesia dan situasi mereka kemudian mengungkapkan keinginan mereka untuk mengadopsi anak.

Situasi yang rumit

Meski semua tampak 'mudah', situasi menjadi rumit ketika terungkap bahwa bayi tersebut tidak dapat didaftarkan sebagai anak angkat karena persyaratan Departemen Pencatatan Nasional (JPN) bahwa ibu kandung harus hadir untuk dokumentasi.

Sayangnya, pasangan Indonesia itu sudah tidak bisa dihubungi lagi dan juga sudah pindah dari rumah kontrakan mereka di Karak.

Menurut ibu angkat yang akrab disapa Hasnah itu, pasangan asal Indonesia tersebut tak bisa dihubungi sejak bayinya diserahkan.

"Kami kehabisan akal tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, karena kami membutuhkan ibu kandung untuk mendaftarkan bayi sebagai anak angkat yang sah. Kita perlu melakukan ini untuk masa depan sang anak," beber Hasnah.

Hasnah berharap agar orang tua kandung bayi segera menghubungi mereka untuk menyelesaikan proses pendaftaran.

"Semua yang diminta NRD sudah kami lakukan, termasuk vaksinasi dan upaya melacak ibu kandung bayi tersebut. Sampai saat ini kami masih buntu," kata Hasnah.



Simak Video "Covid-19 Meningkat, Warga Jakarta Kesulitan Cari Rumah Sakit"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)