MKEK Tuding Ada 'Cacat Besar' dalam Disertasi 'Cuci Otak' Terawan di Unhas

ADVERTISEMENT

MKEK Tuding Ada 'Cacat Besar' dalam Disertasi 'Cuci Otak' Terawan di Unhas

Vidya Pinandhita - detikHealth
Selasa, 05 Apr 2022 10:30 WIB
Jakarta -

Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK) menjelaskan adanya masalah besar pada metode digital subtraction angiography (DSA) 'cuci otak' yang diperkenalkan oleh Terawan, Mengingat, hal tersebutlah yang melatarbelakangi kisruh pemberhentian Terawan dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Prof Rianto Setiabudi dari MKEK-IDI menerangkan, terdapat bagian-bagian tertentu dari disertasi Terawan yang mengandung kelemahan substansial. Prof Rianto menegaskan, dosis kecil heparin yang digunakan dalam metode DSA Terawan tak berfungsi melarutkan bekuan darah pada otak pasien stroke, melainkan hanya mencegah mampet bekuan darah pada ujung kateter yang berfungsi menunjukkan letak mampet.

"DSA itu suatu metode, metode radiologi memasukkan kateter dari suatu pembuluh darah di paha sampai ke otak. Di sana dilepaskan kontras. Kontras itu akan menunjukkan, di mana letak mampetnya itu. Nah supaya ujung kateter itu tetap terbuka, diberikanlah sedikit dosis kecil heparin untuk mencegah bekuan darah di ujung kateter," ujarnya dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Senin (4/4/2022).

"Jadi ketika itu digunakan, maka timbul masalah yang besar sekali yaitu yang digunakan ini adalah orang-orang stroke yang stroke-nya sudah lebih dari satu bulan. Jadi bekuan darah itu sudah mengeras di situ dan tidak mungkin, kita cari di literatur mana pun, yang menunjukkan bahwa heparin efektif untuk merontokkan (atau) melarutkan bekuan darah," imbuhnya.

Prof Rianto menjelaskan, yang bisa melarutkan bekuan darah pada pasien stroke hanyalah zat thrombolytic agents. Itu pun, hanya efektif jika stroke baru berusia beberapa jam.

"Ini (metode DSA Terawan) sudah satu bulan lebih dan dipakainya bukan obat untuk meluruhkan itu. Jadi timbul masalah besar di situ," imbuhnya.

Lebih lanjut menurut Prof Rianto, uji klinik penelitian DSA tidak memiliki kelompok pembanding. Hal inilah yang menjadikan desain penelitian pada disertasi Terawan 'cacat besar'.

"Uji klinik yang benar akan mengatakan kita sulit sekali menerima kesahihan penelitian yang tanpa pembanding. Ini adalah desain penelitian yang cacat besar sebetulnya. Itu terjadi dalam penelitian ini," pungkas Prof Rianto.

(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT