Saat seseorang melemparkan candaan yang terasa di luar batas, tentu hal ini membuat tidak nyaman. Seringkali, diri langsung merasa tersinggung dan ingin bereaksi tanpa memikirkan konsekuensinya. Bahkan, tak jarang akan ada tendensi kekerasan baik verbal maupun fisik yang mengikutinya.
Psikolog dan Grafolog, Joice Manurung, menyampaikan bahwa reaksi dengan tendensi kekerasan tentu tidak terjadi begitu saja. Dalam prosesnya, seseorang selalu punya kesempatan untuk memilih reaksi apa yang ingin diberikan.
"Ketika mendengarkan candaan yang diberikan, kan ada reaksi sebenarnya yang ditampilkan di awal. Lalu, ada jeda waktu untuk memproses, baru seseorang menunjukkan reaksi kekerasan, misalnya," jelas Joice di acara e-Life detikcom.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itulah, jeda waktu menjadi salah satu aspek penting dalam memproses emosi agar tak menyebabkan reaksi negatif. Semakin seseorang tidak memberikan dirinya jeda waktu sebelum bereaksi, maka orang tersebut umumnya lebih reaktif.
"Adanya satu reaksi yang tidak disertai oleh sebuah pertimbangan atau proses memikirkan, 'Saya perlu bereaksi apa ya?' Nah, di sini nggak ada. Orang-orang yang nanti punya ciri impulsitivitas, itu akan masuk ke ranah reaktif lebih cepat," terang Joice.
Meregulasi emosi, termasuk saat merasa tersinggung, memang bukan hal yang mudah. Namun, Joice memberi kiat dalam menghadapinya. Hal ini bisa diusahakan dengan menata kembali cara berpikir, atau 'reframing'.
"Berikan waktu 3-10 detik untuk diam, terus kita pikirkan, 'Kalau saya datang, terus saya nampar, kira-kira ada nggak benefit-nya?'Nanti nggak sampai 10 detik itu beneran reframing. Dia me-reframe lagi, membingkai lagi, reaksi apa yang mau dia hasilkan. Dan dengan demikian, ada proses menalar di sana, sehingga dia bisa memikirkan, 'Oh kalau saya nampar, ternyata yang rugi saya,'" lanjutnya.
Bagi seseorang yang memiliki ciri impulsivitas, reframing akan sedikit lebih sulit dilakukan. Maka, Joice menyarankan untuk membiasakan diri melakukan hal-hal yang memiliki ritme lambat. Hal ini ditujukan agar diri menjadi sadar dengan hal-hal di sekitar.
"Cobalah melakukan beberapa kegiatan yang ritmenya, dan polanya itu lambat. Atau berlatih tarik nafas. Tarik nafas, itu membantu kita untuk mengendalikan perilaku kita, dan kita lebih sadar," kata Joice.
"Karena ketika seseorang itu tiba-tiba bersikap reaktif karena mendengar candaan, dan dia langsung melompat, bereaksi keras, sesungguhnya, kepekaan dia atau jaraknya dia dengan sekitarnya, itu jadi berkurang," lanjutnya.
Saksikan video lengkapnya, e-Life: Kok Baper Sih? Kan Bercanda











































