ADVERTISEMENT

Selasa, 05 Apr 2022 18:46 WIB

Mudah Baper? Mungkin Kamu Oversensitif

Nada Celesta - detikHealth
Jakarta -

Jika seseorang dianggap sensitif, seringkali hal ini bermakna buruk. Orang yang sensitif identik dengan sifat mudah tersinggung dan sulit diajak kerja sama. Namun, anggapan ini nampaknya perlu ditilik ulang.

Menurut Psikolog dan Grafolog Joice Manurung, sensitivitas itu diperlukan agar seseorang dapat berempati. Namun, jika sensitivitasnya berlebihan, inilah yang perlu diperhatikan lebih lanjut.

"Kalau sensitif itu objektif, peka. Misalnya, ada orang jatuh di depan. Kita langsung, 'Aduh kasihan!' kita angkat, kita bantu dia berdiri. Itu sensitif. Tapi, kalau oversensitif, hal-hal yang sebenarnya tidak membutuhkan keterlibatan emosi yang dalam, justru dia libatkan," jelas Joice di acara e-Life detikcom.

Saat sesuatu terjadi, orang yang oversensitive akan melibatkan emosi lebih dari yang seharusnya. Pada batas tertentu, sensitivitas yang berlebihan ini bisa mengarah ke sifat yang mudah teriritasi.

"Jadi kalau nanti arahnya dia ke sesuatu yang misalnya empati gitu ya, kepekaan. Ya mungkin jadi berlebihan empatinya. Yang justru orang nggak butuhkan. Orang nggak butuhkan perhatian sedalam itu. Kalau sifatnya nanti destruktif, hal-hal kecil sangat mudah membuat dia tersinggung, marah, stres, frustrasi, dan sebagainya," lanjut Joice.

Jika seseorang memiliki tendensi ini, maka penting untuk menyadarinya. Setelah itu, Joice menyarankan untuk memahami dan menurunkan kadar sensitivitas yang berlebihan, agar lebih mudah meregulasi emosi.

"Semua yang 'over' itu tidak di kondisi nyaman. Sehingga membuat orang perlu sadar. Di sinilah perlu saya bilang, cross check, untuk reframing, dan segala macam hal yang kita pakai untuk bisa mengukur dan terutama kita cek ke psikolog untuk memastikan sejauh mana kadar oversensitivity kita tadi," kata Joice.

Saksikan video lengkap e-Life: Kok Baper Sih? Kan Bercanda

[Gambas:Video 20detik]



(mjt/mjt)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT