Rabu, 06 Apr 2022 18:06 WIB

Bahaya BPA di Galon Guna Ulang, FMCG Insights Soroti Sikap Akademisi

Nada Zeitalini - detikHealth
Ilustrasi Galon Air Mineral Foto: shutterstock
Jakarta -

Fast Moving Consumer Good (FMCG) Insights mendesak kalangan akademisi untuk lebih kritis terhadap industri air kemasan terkait potensi bahaya Bisfenol A atau BPA pada galon keras polikarbonat.

"Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara terbuka dan berulang kali menekankan perlunya mengantisipasi dampak peredaran luas galon polikarbonat yang mengandung BPA pada kesehatan masyarakat di masa datang, tapi ironisnya sebagian akademisi masih menganggapnya sebagai hal biasa dan malah membawa-bawa analogi yang rancu," ujar Koordinator Riset dan Teknologi FMCG Insights Muhammad Hasan dalam keterangan tertulis, Rabu (6/4/2022).

Hasan menyoroti dan merespons pernyataan sejumlah akademisi di media yang mendiskon efek paparan sinar matahari pada galon guna ulang.

"Kami sangat menyayangkan hal tersebut," katanya.

"Apalagi sebagian akademisi sampai membawa-bawa permisalan efek paparan sinar matahari pada kursi plastik," imbuh Hasan.

Menurut Hasan analogi dari para akademisi tersebut adalah bentuk sofistikasi masalah. Hal itu justru menutup celah bagi publik untuk memahami risiko BPA secara utuh.

"Pengandaian itu mengecoh dan memberi angin pada industri yang sedari awal menentang inisiatif BPOM terkait pengendalian dampak BPA," kata Hasan.

"Faktanya, efek paparan sinar matahari pada kursi plastik bisa jelas terlihat mata, sementara peluluhan BPA hanya bisa dikenali dari uji laboratorium," jelasnya.

Melanjutkan, Hasan menjelaskan kursi plastik bukanlah bahan kontak pangan sehingga produksinya tidak menuntut standar mutu dan keamanan yang tinggi. Berbeda dengan produksi galon polikarbonat untuk air kemasan. Untuk itu Hasan mengkritik sikap para akademisi yang seakan ingin menyudahi wacana pelabelan risiko BPA.

"FMCG Insights berpendapat jauh lebih bijak bila akademisi menggelar riset membantu BPOM," tuturnya.

Riset terkait level peluluhan BPA pada galon guna ulang yang usianya sudah di atas lima tahun namun masih beredar di pasar masih sangat minim. Padahal plastik polikarbonat dalam produksinya mengandalkan bahan kimia BPA. Namun seiring perkembangan riset dan sains mutakhir, otoritas keamanan pangan di berbagai negara mengkhawatirkan residu BPA pada kemasan polikarbonat dan efeknya pada kesehatan manusia.

Beberapa negara seperti Perancis dan Kanada telah melarang peredaran semua kemasan pangan yang mengandung BPA. Namun di Indonesia, BPOM mengharuskan produsen pangan yang menggunakan kemasan plastik polikarbonat menaati ambang batas migrasi BPA yang ditetapkan sebesar 0,6 mg/kg.

Berdasarkan hasil pemantauan BPOM per Februari 2022 menyebut level migrasi BPA pada galon guna ulang yang beredar luas di masyarakat menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan baik pada sarana produksi maupun distribusi. Oleh sebab itu BPOM telah merancang sebuah kebijakan pelabelan risiko BPA pada galon polikarbonat untuk mengantisipasi 'masalah-masalah kesehatan publik' yang mungkin muncul di masa datang. Rancangan peraturan BPOM tersebut saat ini memasuki fase pengesahan.

Menurut Kepala BPOM, Penny K. Lukito, rencana pelabelan itu bertujuan melindungi industri air kemasan dari tanggung jawab di masa mendatang sekaligus memberikan perlindungan kesehatan ke khalayak luas. Nantinya produsen galon air minum yang menggunakan galon polikarbonat wajib mulai mencantumkan label 'Berpotensi Mengandung BPA' kurun tiga tahun sejak peraturan disahkan. Sementara produsen yang menggunakan kemasan selain polikarbonat diperbolehkan mencantumkan label 'Bebas BPA'.

Hasan berharap pemerintah menyegerakan pengesahan rancangan peraturan pelabelan BPA tersebut. Ia juga berharap pemerintah menerbitkan pedoman pengangkutan dan penjualan air galon untuk memastikan produk tetap terjaga mutunya, aman, dan layak dikonsumsi saat sampai ke tangan konsumen.

Hasil riset Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada Maret 2022 menunjukkan mayoritas pengangkutan air galon menggunakan kendaraan terbuka. Terlebih galon dipajang dan diletakkan kurang tepat dan memperbesar risiko peluluhan BPA.

"Industri air kemasan sering sesumbar kalau mereka beroperasi di bawah pengaturan yang sangat ketat, tapi nyatanya, aturan yang ada sejauh ini, termasuk SNI Air Mineral dan Good Manufacturing Practices, tidak memuat pedoman pengangkutan, penyimpanan dan penyajian produk air kemasan," katanya.

"Ironis sebenarnya mengingat untuk penjualan kolang-kaling dan cendol di pasar tradisional, pemerintah sudah menerbitkan pedoman detailnya, sementara industri air kemasan yang perputaran bisnisnya triliun rupiah belum punya acuan terkait distribusi dan penjualan air kemasan," pungkasnya.



Simak Video "Bahas Tuntas Risiko Pelabelan yang Mengandung BPA di Kemasan Plastik"
[Gambas:Video 20detik]
(fhs/up)