Jerman batal mengubah aturan relaksasi COVID-19 bagi pasien COVID-19. Menteri Kesehatan (Menkes) Karl Lauterbach menyatakan khawatir pencabutan pembatasan karantina akan memicu infeksi yang lebih tinggi.
"Virus corona bukan flu. Itu sebabnya harus terus ada isolasi setelah terinfeksi," kata Menkes Lauterbach di Twitter, sembari menambahkan bahwa dia telah membuat kesalahan dengan menyarankan diakhirinya karantina wajib, dikutip dari Reuters, Kamis (7/4/2022).
Lauterbach mengatakan dia telah membuat proposal untuk mencoba meringankan beban otoritas kesehatan yang harus memerintahkan karantina dan isolasi, tetapi dia mengatakan hal tersebut mengirim sinyal yang salah bahwa pandemi telah berakhir dan bahaya telah berlalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seharusnya tidak seperti itu," katanya pada konferensi pers, mencatat bahwa masih ada lebih dari 300 orang yang sekarat setiap harinya akibat COVID-19.
Berdasarkan aturan yang ada, orang dengan COVID-19 harus mengisolasi setidaknya selama tujuh hari. Lauterbach sebelumnya menyarankan untuk beralih ke periode isolasi diri lima hari sukarela dengan rekomendasi tes COVID pada akhir masa karantina.
Jerman juga telah berencana mewajibkan vaksinasi, meskipun dukungan gagasan tersebut telah berkurang karena gejala varian Omicron tergolong ringan. Meski begitu, warga yang berusia di atas 60 tahun kemungkinan diwajibkan untuk divaksin mulai Oktober.
(kna/up)











































