Mengenal Diare: Gejala, Penyebab, hingga Pengobatannya

ADVERTISEMENT

Mengenal Diare: Gejala, Penyebab, hingga Pengobatannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Rabu, 11 Mei 2022 14:46 WIB
ilustrasi toilet
Mengenal diare, terkait penyebab, gejala, hingga cara mengatasinya. (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Diare merupakan kondisi saat seseorang buang air besar (BAB) lebih sering dari biasanya. Kondisi ini ditandai dengan BAB lebih dari tiga kali atau lebih dalam satu hari. Selain itu, feses atau kotoran yang dikeluarkan lebih encer.

Kondisi ini juga mungkin dikaitkan dengan beberapa gejala lain, seperti mual, muntah, sakit perut, atau penurunan berat badan.

Umumnya, diare hanya berlangsung dalam waktu yang singkat, tidak lebih dari beberapa hari. Tetapi, saat diare terjadi berhari-hari hingga berminggu-minggu, bisa jadi ada masalah kesehatan lain.

Misalnya seperti sindrom iritasi usus (IBS) atau gangguan yang lebih serius, termasuk infeksi persisten, penyakit celiac, atau penyakit radang usus (IBD).

Gejala Diare

Gejala diare umumnya bisa dilihat dari bentuk feses yang lebih encer dan intensitas BAB yang lebih sering. Selain itu, beberapa gejala lainnya seperti:

  • Kram atau nyeri perut
  • Kembung
  • Mual
  • Muntah
  • Demam
  • Darah dalam tinja atau kotoran
  • Lendir di tinja
  • Kebutuhan mendesak untuk buang air besar

Penyebab Diare

Dikutip dari laman Mayo Clinic, ada sejumlah kondisi yang bisa menyebabkan diare, yakni:

Virus

Diare bisa disebabkan oleh virus, seperti virus Norwalk (juga dikenal sebagai norovirus), adenovirus enterik, astrovirus, cytomegalovirus dan virus hepatitis. Rotavirus menjadi penyebab diare umum diare akut yang terjadi pada anak.

Selain itu, COVID-19 juga dikaitkan dengan gejala gastrointestinal, termasuk mual, muntah, dan diare.

Bakteri dan parasit

Diare juga bisa disebabkan paparan bakteri patogen, seperti E Coli atau parasit yang menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Kondisi ini juga bisa disebabkan bakteri Clostridiosis difficile (yang juga dikenal sebagai C Diff).

C Diff adalah jenis bakteri yang dapat terjadi setelah pemberian antibiotik atau selama dirawat di rumah sakit.

Obat-obatan

Kondisi ini bisa juga disebabkan obat-obatan, seperti antibiotik. Antibiotik bisa mengurangi infeksi dengan membunuh bakteri jahat, tetapi juga bakteri baik.

Ini bisa mengganggu keseimbangan alami bakteri di usus dan menyebabkan diare atau infeksi yang tumpang tindih seperti C Diff. Obat lainnya yang bisa menyebabkan diare adalah obat anti kanker dan antasida dengan magnesium.

Intoleransi laktosa

Laktosa merupakan gula yang ditemukan dalam susu dan produk susu lainnya. Orang yang mengalami kesulitan mencerna laktosa mengalami diare usai mengkonsumsi produk susu.

Kondisi ini bisa meningkat seiring bertambahnya usia karena kadar enzim yang membantu mencerna laktosa menurun seiring bertambahnya usia.

Fruktosa

Fruktosa adalah gula alami yang terkandung dalam buah-buahan dan madu. Terkadang ditambahkan sebagai pemanis untuk minuman tertentu. Fruktosa bisa menyebabkan diare pada orang yang kesulitan mencernanya.

Pembedahan

Pembedahan atau operasi pengangkatan sebagian usus atau kandung empedu terkadang juga bisa menyebabkan diare.

Gangguan pencernaan lain

Diare kronis memiliki sejumlah penyebab lain, seperti IBS, penyakit Crohn, kolitis ulserativa, penyakit celiac, kolitis mikroskopis, dan pertumbuhan bakteri usus kecil yang berlebihan (SIBO).

Pengobatan Diare

Sebagian besar kasus diare akut bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Namun, ada beberapa pengobatan dokter yang bisa dilakukan, yakni:

Antibiotik atau antiparasit

Antibiotik atau anti parasit dapat membantu mengobati diare yang disebabkan oleh bakteri atau parasit. Jika diare disebabkan oleh virus, antibiotik tidak akan bisa membantu mengatasinya.

Menyesuaikan obat yang sedang dikonsumsi

Jika diketahui antibiotik menjadi penyebab diare, dokter mungkin akan menurunkan dosis obat atau menggantinya dengan obat lain.

Mengobati kondisi yang mendasari

Jika diare disebabkan oleh kondisi yang lebih serius, seperti penyakit radang usus, dokter akan mengobati penyakitnya terlebih dulu.

Namun, diare biasanya bisa sembuh dengan cepat tanpa pengobatan. Untuk membantu mengatasi tanda dan gejalanya hingga diare hilang, bisa mencoba:

  • Minum banyak cairan, seperti air, kaldu, dan jus.
  • Tambahkan makanan semi padat dan rendah serat secara bertahap sampai BAB kembali normal, seperti biskuit, nasi, telur, roti, atau ayam.
  • Hindari makanan tertentu seperti produk susu, makanan berlemak, makanan berserat tinggi selama beberapa hari.
  • Jika diare belum kunjung membaik, segera konsultasikan ke dokter.

Pencegahan Diare

Tindakan pencegahan diare yang paling utama adalah dengan mencuci tangan. Berikut tips untuk mencegah diare yaitu:

  • Sering-seringlah mencuci tangan sebelum atau sesudah menyiapkan makanan. Selain itu, cuci tangan setelah memegang daging mentah, menggunakan toilet, bersin, batuk, hingga mengganti popok anak.
  • Cuci tangan selama 20 detik dengan menggosok seluruh bagian tangan.
  • Bisa menggunakan hand sanitizer sebagai pengganti air untuk membersihkan tangan. Gunakan produk yang mengandung setidaknya 60 persen alkohol.


Simak Video "Polemik Oralit yang Disebut Perburuk Sakit Diare"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT