ADVERTISEMENT

Rabu, 11 Mei 2022 15:33 WIB

Fakta-fakta Pria Berbobot 275 Kg yang Anjlok Bersama Lift di Malang

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Pria berbobot 275 kg mengalami patah tulang karena anjlok bersama lift di rumahnya. Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim
Jakarta -

Seorang pria berbobot 275 kg, Dwi Ariesta Wardhana (38), anjlok bersama lift di rumahnya. Proses evakuasi pun dilakukan oleh tim gabungan dari PMI dan PMK Kota Malang dengan jumlah 12 orang.

Meskipun awalnya sempat kesulitan untuk evakuasi korban, kini kabarnya pria tersebut sudah menjalani perawatan di rumah sakit.

"Kita bawa ke rumah sakit dengan pikap, karena ambulance dan brankar tidak muat," imbuh Komandan Regu I UPT PMK Kota Malang, Edi Susianto, dikutip dari detikjatim, Rabu (11/5/2022). Berikut fakta-faktanya.

1. Jatuh dari Ketinggian Sekitar 3 Meter

Pria berbobot 275 kg tersebut terjatuh bersama lift di rumahnya dengan ketinggian sekitar tiga meter. Hal tersebut terjadi lantaran kawat sling lift putus. Proses evakuasi tersebut membutuhkan waktu hampir tiga jam. Juga, tim gabungan menggunakan triplek setebal satu cm untuk mengevakuasi korban.

2. Mengalami Patah Tulang dan Lutut

Tim dokter melaporkan bahwa korban mengalami patah tulang terbuka di bagian engkel sebelah kiri usai jatuh sekitar tiga meter. Selain itu, ditemukan juga masalah pada bagian lutut.

"Jadi pada saat kondisi datang pertama ada patah tulang terbuka engkel di sebelah kiri. Jadi kita lakukan tindakan emergency-nya kita kembalikan posisinya, kita cuci biar nggak infeksi," ungkap dr Agung Rianto Budi Santoso SpOt dari RS dr Syaiful Anwar (RSSA).

"Cuma ada masalah juga di lututnya, kita juga ada rencana nanti akan melakukan tindakan operasi di lutut. Tapi menunggu kondisinya stabil dulu," sambungnya.

3. Akan Jalani Program Diet dan Proses Rehabilitasi

dr Agung mengatakan korban nantinya akan menjalani program penurunan berat badan yang dilaksanakan secara simultan. Hal ini dilakukan lantaran pria tersebut memiliki berat badan 275 kg alias tak wajar bagi berat badan normal.

"Jadi mumpung ada di rumah sakit nanti kita akan konfirmasi ke semua stakeholder sama seksi-seksi terkait. Mulai diabetnya kita konsultasikan ke penyakit dalam. Program gizinya kita nanti ke instalasi gizi, harapannya program penurunan berat badan bisa, dilaksanakan secara simultan," kata Agung, Rabu (11/5/2022).

Menurutnya, rencana tindakan operasi tahap berikutnya akan menunggu hasil observasi menyeluruh. Terutama dari ahli gizi dan penyakit dalam.

"Sekarang kita mengevaluasi karena ini pasien overweight kita observasi untuk laboratorium, jadi hasil laboratorium ada masalah dengan marker diabet. Jadi rencana akan kita konsultasikan ke penyakit dalam, karena kalau kita melakukan terapi pada pasien kita secara holistik memeriksa semua kondisi yang kemungkinan bisa terjadi," jelasnya.

Meskipun demikian, jika nantinya ditemukan permasalahan bahwa pasien mengidap penyakit diabetes sama ginjal, tentunya hal ini akan berpengaruh pada fase penyembuhannya.

"Jadi sebenarnya untuk overweight tidak bermasalah untuk proses penyembuhan, tapi kalau ada permasalahan diabet sama ginjal akan bermasalah tentang fase penyembuhannya," jelasnya.

"Overweight bermasalah pada proses rehabilitasi untuk patah tulangnya, karena setelah operasi pasien harus menjalani proses rehabilitasi harapannya fungsi engkel kanan kiri dan lututnya kembali normal. Apalagi ini menyangga berat yang overweight ini targetnya nanti kita konsul ke dokter spesialis gizinya," sambungnya.

Proses rehabilitasi akan mengikuti program diet pasien, sehingga nanti dapat diukur per minggunya berapa berat badan yang bisa diturunkan.

"Yang aman 275 kilogram per minggunya turun berapa, harapannya nanti proses rehabilitasinya mengikuti program dietnya," tandas dr Agung.



Simak Video "Begini Kondisi Warga Malang yang Diviralkan Buta Usai Vaksinasi"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT