Jumat, 13 Mei 2022 19:45 WIB

Perlu Diwaspadai! Ini 4 Hal yang Bisa Bikin Bayi Jarang BAB

Rosiana Putri Muliandari - detikHealth
Makan di balik warna feses bayi Foto: iStockphoto
Jakarta -

Memiliki momongan dapat menjadi salah satu keinginan para pasutri. Namun, tentunya, mengasuh bayi yang baru lahir memiliki tantangan tersendiri, khususnya seputar kesehatan bayi.

Salah satunya adalah kebiasaaan buang air besar atau BAB pada bayi yang baru lahir. Beberapa bayi dapat BAB sebanyak 5 hingga 6 kali sehari, tapi, ada juga yang dapat tidak BAB selama berhari-hari.

Kondisi tersebut dapat dialami oleh bayi yang sedang mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) dan bayi yang telah mulai mendapatkan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Berikut kondisi BAB bayi yang normal dan tidak normal.

Pola BAB pada Bayi ASI

Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif cenderung akan lebih sering BAB, terutama setelah lahir. Kondisi ini merupakan hal yang normal karena ASI mengandung semacam zat laksatif yang bersifat layaknya pencahar.

Semakin banyak ASI yang diberikan, bayi akan lebih sering BAB. Biasanya, bayi ASI akan BAB sebanyak 3 hingga 6 kali sehari.

Berbalik dengan bayi ASI, bayi yang minum susu formula mungkin akan lebih jarang BAB karena kandungan susu tersebut berbeda dengan kandungan ASI.

Jika bayi ASI jarang BAB, orang tua butuh melakukan observasi terhadap bentuk dan warna feses dan kondisi bayi. Kemungkinan penyebab bayi ASI jarang BAB adalah karena kondisi medis lainnya.

Meski jarang BAB, bayi tidak perlu dibawa ke dokter jika berat badan naik, menyusu seperti biasanya, dan tetap aktif layaknya bayi sehat.

Perubahan Intensitas BAB pada Bayi MPASI

Bayi ASI yang telah mulai MPASI atau mengenal makanan padat, akan memiliki intensitas BAB yang lebih sedikit. Hal itu karena bayi lebih banyak menyerap zat gizi. Meski begitu, intensitas normal BAB pada bayi MPASI adalah setiap hari atau dua hari sekali.

Beberapa penyebab bayi MPASI jarang BAB antara lain adalah:

1. Jarang Minum Air Putih

Makanan padat sudah boleh mulai diberikan pada bayi setelah usia 6 bulan. Tidak hanya makanan padat, bayi MPASI juga sudah bisa diberikan air putih. Sayangnya, tidak sedikit ibu yang masih memberikan ASI pada bayi usia 6 bulan dan melupakan air putih.

Perlu dicatat, ASI tetap tidak dapat menggantikan asupan cairan yang penting bagi bayi. Jika kurang asupan air putih, BAB bayi dapat menjadi keras.

Sebuah cara untuk mencegah hal tersebut adalah dengan membagi waktu bayi makan, menyusu, dan minum air putih. Contohnya seperti memberikan ASI 4 kali dalam sehari pada bayi usia 6 bulan atau 3 kali sehari pada bayi 7 bulan.

2. Susu yang Dikentalkan

Pemberian susu formula pada bayi MPASI harus diperhatikan dengan baik. Hal ini karena susu formula yang salah diseduh dapat menyebabkan BAB keras pada bayi. Susu formula yang terlalu kental dapat menyebabkan bayi malas BAB karena BAB yang keras.

3. Bayi Kurang Aktif Bergerak

Selain kurangnya asupan air putih dan susu formula yang terlalu kental, bayi yang kurang aktif bergerak akan cenderung jarang BAB atau adanya masalah pencernaan. Untuk mengatasi ini, baiknya, bayi diajak bermain atau melakukan aktivitas fisik lainnya.

4. Suplementasi Zat Besi

Pemberian suplementasi zat besi tambahan dapat menyebabkan BAB menjadi keras. Suplemen tambahan tersebut sebaiknya hanya diberikan pada bayi yang kekurangan zat besi.

Jika ingin memberikan suplemen tambahan, disarankan untuk konsultasi terlebih dulu dengan dokter.

Selain penyebab bayi jarang BAB, berikut tanda-tanda bayi jarang BAB yang perlu diwaspadai

KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA



Simak Video "Menkes Terawan Minta Anak-anak Tidak Stres di Masa Pandemi COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)