Rabu, 18 Mei 2022 20:20 WIB

Tanggapi Risiko Mikroplastik, BPOM Minta Masyarakat Tidak Panik

Nada Zeitalini - detikHealth
Ilustrasi Galon Air Mineral Foto: shutterstock
Jakarta -

Maraknya isu bahaya mikroplastik pada air kemasan membuat sejumlah masyarakat panik. Menanggapi hal ini, Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan pada Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Rita Endang mengajak masyarakat untuk bersikap lebih bijak.

Rita menyebutkan hingga saat ini belum ada risiko kesehatan yang menjelaskan terkait bahaya mikroplastik.

"Masyarakat tak perlu cemas," tutur Rita dalam keterangan tertulis, Rabu (18/5/2022).

Untuk mengedukasi masyarakat agar bijak menanggapi isu tersebut, Rita juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terhasut isu dan menimbulkan kepanikan berlebih. Ia pun menggelar forum Sosialisasi Keamanan Kemasan Bahan Pangan Berbahan Baku Plastik yang Mengandung Unsur BPA pada Oktober 2021 lalu.

"Badan POM tak pernah lepas dari mengawasi segala hal terkait keamanan dan mutu obat dan makanan untuk menjaga kesehatan masyarakat," katanya.

Rita menjelaskan mikroplastik adalah unsur serpihan plastik yang tak kasat mata yang ada di semua unsur plastik. Merujuk kepada maklumat organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dirinya menyebut belum ada rekomendasi dari WHO untuk memantau secara rutin atas kontaminasi mikroplastik dalam air kemasan.

"Sampai saat ini, belum ada risiko kesehatan terkait mikroplastik," tegasnya.

"Bahkan pada 2021 otoritas keamanan pangan tertinggi Eropa, European Food Safety Authority, juga menyampaikan hal yang sama: pemantauan rutin mikroplastik belum menjadi prioritas," imbuhnya.

Senada dengan itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia Rachmat Hidayat mengatakan belum ada studi ilmiah yang secara kuat membuktikan bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia.

Meskipun begitu isu bahaya mikroplastik pada air minum kemasan memang menjadi topik hangat di banyak negara termasuk Indonesia, setidaknya dalam empat tahun terakhir. Isu ini diawali dari laporan hasil riset uji kontaminasi mikroplastik pada air keran (tap water) dan pada air minum dalam kemasan plastik tahun 2018 lalu oleh Departemen Kimia, State University of New York at Fredonia, Amerika Serikat.

Riset Fredonia berjudul 'Synthetic Polymer Contamination in Bottled Water' itu menguji kontaminasi mikroplastik atas 11 merek air minum kemasan botol plastik di sembilan negara. Dari sana ditemukan 93% dari total 259 botol sampel air minum kemasan yang diuji menunjukkan sejumlah tanda telah terjadi kontaminasi mikroplastik.

Dengan bantuan program komputer, riset menghitung ukuran, konsentrasi, dan jenis mikroplastik pada semua sampel yang diketahui rata-rata ada 10,4 partikel mikroplastik dengan ukuran di atas 10 mikrometer per liter dalam setiap botol sampel. Dari riset itulah kemudian bermunculan banyak penelitian sejenis, berikut gunungan pertanyaan, dan juga kecemasan, atas dampak kontaminasi mikroplastik dalam air minum pada tubuh manusia.

WHO menjawab kecemasan seluruh masyarakat dunia terkait isu bahaya mikroplastik pada tahun 2019 dalam sebuah laporan komprehensif bertajuk 'Microplastic in Drinking-water'. Laporan itu menjelaskan mikroplastik sebagai ubiquitous ada dimana-mana di semua lingkungan, tidak hanya di air minum botol kemasan melainkan di perairan laut, makanan, udara, hingga air minum air keran. Akan tetapi belum ada penelitian yang konklusif terkait efeknya pada kesehatan manusia, sehingga isu tersebut tak perlu dicemaskan.

[Gambas:Video 20detik]



(fhs/up)