Selasa, 24 Mei 2022 07:30 WIB

COVID-19 RI Melandai, Warga Masih Perlu Vaksin Corona Dosis ke-4?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kasus aktif Corona DKI Jakarta tembus 86 ribu kasus. Meningkatnya kasus COVID-19 imbas varian Omicron membuat warga di Jakarta ramai-ramai divaksin booster. Penjelasan epidemiolog perihal pemberian vaksin COVID-19 dosis ke-4. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Seiring membaiknya kondisi pandemi COVID-19 RI, muncul sejumlah usulan terkait pemberian vaksin COVID-19 booster kedua alias vaksinasi COVID-19 dosis ke-4 khususnya untuk tenaga kesehatan. Mengingat, antibodi dari vaksin COVID-19 menurun dalam waktu sekitar delapan bulan semenjak disuntikkan.

Menanggapi itu, epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyebut Indonesia memang belum bebas dari ancaman pandemi COVID-19. Namun begitu melihat cakupan dosis 2 dan 3 yang belum melampaui target, Dicky menilai vaksin COVID-19 dosis-4 belum diperlukan.

Meski antibodi dari vaksin COVID-19 menurun dalam waktu hitungan bulan, Dicky menyebut pemberian vaksin dosis-4 belum direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Pandemi ini belum dicabut statusnya, artinya ancaman tetap ada perburukan situasi pandemi. Apalagi dengan varian Omicron yang angka reproduksinya mendekati 10, sangat efektif menginfeksi. Turunan-turunan Omicron ini bisa bersirkulasi bukan hanya yang belum divaksinasi atau dua dosis, tapi pada tiga dosis pun bisa," ujarnya pada detikcom, Senin (23/5/2022).

"Ada kasus-kasus penurunan proteksi dari vaksinasi, itu juga memang pada beberapa negara sudah memikirkan. Tapi ini belum menjadi rekomendasi WHO. Karena apa? Karena ketika kita menjadikan ini sebagai program nasional, kita harus melihat bagaimana cakupan dosis dua dan dosis tiga secara nasional. Ini yang tentu harus dipertimbangkan," sambung Dicky.

Kapan Booster Kedua Diperlukan?

Dicky menjelaskan, pemberian vaksin COVID-19 booster kedua bisa dipertimbangkan jika cakupan vaksinasi dosis lengkap, yakni dosis tiga, sudah melampaui target 70 persen populasi.

"Dalam konteks Indonesia, untuk tenaga-tenaga kesehatan yang memang saat ini di front line, tentu bisa digencarkan masalah dosis ketiganya. Tapi kalau untuk booster kedua, saya kira belum terlalu urgent dalam konteks Indonesia karena kita harus melihat juga masalah alokasi atau stok dari vaksin ini yang harus digencarkan untuk booster di populasi umum," terangnya.

"Nanti seiring waktu, setelah setidaknya cakupannya sudah di atas 70 persen untuk booster, kita bisa melihat urgensi lagi, kita evaluasi kembali. Tapi menurut saya saat ini kita harus mengejar pemberian dosis dua dan tiga yang masih jadi PR untuk populasi umum. Bahkan terutama untuk populasi yang berisiko," pungkas Dicky.



Simak Video "Fenomena Vaksin Covid-19 Kedaluwarsa di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)