Selasa, 24 Mei 2022 08:45 WIB

WHO Minta Tak Stigmatisasi, Cacar Monyet Bukan Penyakit Gay

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Jakarta -

Dunia dibuat geger dengan kemunculan monkeypox atau cacar monyet. Penyakit ini disebut sudah menjadi endemi di beberapa negara.

Pada 21 Mei, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan 92 kasus cacar monyet yang dikonfirmasi laboratorium dan 28 kasus yang dicurigai dari 12 negara yang tidak endemik penyakit tersebut. Sebagian besar infeksi dilaporkan di Eropa, tetapi kasus yang dikonfirmasi dan dicurigai telah dilaporkan di Timur Tengah, Amerika Utara, dan Australia.

Badan kesehatan PBB mengatakan ketika situasi berkembang dan pengawasan meluas, diharapkan lebih banyak kasus Monkeypox akan diidentifikasi. Namun mereka juga memiliki kekhawatiran akan banyaknya yang mengaitkan penyakit ini dengan orientasi seksual.

"Bukti yang ada menunjukkan bahwa mereka yang paling berisiko adalah mereka yang pernah melakukan kontak fisik dekat dengan penderita cacar monyet, dan risiko itu tidak terbatas pada pria yang berhubungan seks dengan pria," beber WHO dikutip dari laman resmi United Nation, Selasa (24/5/2022).

Sampai saat ini, semua kasus yang sampelnya dikonfirmasi oleh PCR telah diidentifikasi terinfeksi clade Afrika Barat. WHO mengatakan bahwa identifikasi kasus Monkeypox yang dikonfirmasi dan dicurigai tanpa hubungan perjalanan langsung ke daerah endemik merupakan 'peristiwa yang sangat tidak biasa'.

Di sisi lain, Program Gabungan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang HIV/AIDS (UNAIDS) telah memperingatkan bahwa stigmatisasi tentang virus cacar monyet dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

"Pengalaman menunjukkan bahwa retorika stigmatisasi dapat dengan cepat menonaktifkan respons berbasis bukti dengan memicu siklus ketakutan, menjauhkan orang dari layanan kesehatan, menghambat upaya untuk mengidentifikasi kasus, dan mendorong tindakan hukuman yang tidak efektif," beber Wakil direktur eksekutif UNAIDS Matthew Kavanagh.

(kna/up)