Jumat, 27 Mei 2022 08:32 WIB

Peneliti Vaksin Nusantara Publikasikan Riset di Jurnal Internasional

Vidya Pinandhita - detikHealth
Anggota Komisi IX Ribka Tjiptaning dari Fraksi PDIP berbicara soal singkatan korona yakni komunitas rondo mempesona. Mantan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto. Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Vaksin Nusantara, yakni vaksin COVID-19 besutan mantan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto, disorot jurnal internasional. Dalam artikel bertajuk 'Dendritic cell vaccine as a potential strategy to end the COVID-19 pandemic. Why should it be Ex Vivo?' disebutkan, sel dendritik sebagai basis vaksin Nusantara berpotensi besar menciptakan imunitas yang mungkin terganggu imbas infeksi virus Corona.

Dituliskan, sel dendritik merupakan komponen seluler penting dalam respon imun bawaan yang memiliki kemampuan fagositosis, menghasilkan mediator inflamasi, dan menyajikan antigen.

"Kami telah menguraikan bahwa sel dendritik sel penyakit antigen (Antigen Presenting Cells atau APC) paling kuat yang dapat mengaktifkan beragam kekebalan sel-T," tertulis dalam artikel yang diterima detikcom dari peneliti utama vaksin Nusantara Kolonel Jonny, Jumat (27/5/2022).

"Sel dendritik memainkan peran penting dalam imunitas bawaan dan adaptif. SARS-CoV-2 dapat menginfeksi sel dendritik yang mengakibatkan gangguan kekebalan bawaan dan adaptif. Vaksin sel dendritik dengan pendekatan ex vivo dapat menghasilkan luaran klinis yang lebih baik," sambungnya.

Menurutnya, vaksinasi berbasis sel dendritik dapat dilakukan melalui pemuatan ex vivo. Artinya, antigen diekspos di luar tubuh ke sel dendritik yang diisolasi dari sel monosit darah perifer, kemudian disuntikkan kembali ke dalam tubuh. Walhasi, vaksin berbasis sel dendritik bersifat spesifik dan individual.

Meski masih eksperimental, vaksin ini tengah dikembangkan sebagai vaksinasi SARS-CoV-2. Peneliti meyakini, metode ex vivo menjadi pilihan utama dalam pengembangan vaksin berbasis sel dendritik.

Juga disebutkan, biaya produksi pendekatan tersebut cukup tinggi. Walhasil, produksi vaksin dengan metode tersebut membutuhkan fasilitas khusus yang tidak memungkinkan didistribusikan secara luas dan praktis. Namun lantaran induksi kekebalan bisa terjadi dalam jangka waktu panjang, metode ini bisa menggantikan kebutuhan suntikan booster berkala sehingga menjadi lebih minim ongkos dibandingkan vaksin konvensional.

"Produksi di titik perawatan seperti rumah sakit dan laboratorium medis, dapat menjadi solusi untuk keterbatasan praktis dari pendekatan ini. Kesimpulannya, pendekatan ini sesuai untuk vaksin COVID-19 dan profil keamanan dari pendekatan ini membutuhkan studi klinis untuk dilanjutkan," sebutnya.

Saksikan juga Blak-blakan Ahmad Sahroni: Cerita Ditodong Anies Jadi OC Formula E

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2