ADVERTISEMENT

Jumat, 03 Jun 2022 18:01 WIB

Heboh Konten TikTok, Psikolog Ungkap Faktor yang Bisa Bikin Pelaku Jera

Razdkanya Ramadhanty - detikHealth
TikTok Bantah Tuduhan Bagikan Data Pengguna India ke Pemerintah Cina Foto: DW (News)
Jakarta -

Media sosial tengah dipenuhi konten meresahkan dari berbagai kalangan. Mulai dari seorang wanita pamer payudara, mahasiswi keperawatan yang memasang kateter pria, hingga diduga tenaga kesehatan (nakes) sengaja membuat menangis para bayi.

Setelah viral, para pelaku pun membuat klarifikasi dan meminta maaf. Lantas, apa yang sebenarnya membuat para pelaku langsung mengucap kata maaf?

Psikolog klinis dari Ohana Space, Arrundina Puspita Dewi, M.Psi, mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang bisa menjadi pendorong keluarnya ucapan maaf dan efek jera. Pertama, bisa saja permohonan maaf disampaikan karena adanya tuntutan moril dari berbagai pihak.

"Ucapan maaf pun mungkin saja disampaikan karena ada 'tuntutan moril' untuk mengakui kesalahan," kata Arrundina kepada detikcom, Jumat (3/6/2022).

Faktor lainnya yakni pelaku menerima serangan dari publik atas perilaku yang dilakukannya. Kondisi ini bisa membuat pelaku merasa tidak nyaman dan membuat seseorang mengalami stres.

"Bisa membuat jera karena mendapatkan serangan bertubi-tubi dari warganet dan tentu saja hal tersebut tidak menyenangkan. Tidak jarang, kondisi 'diserang' seperti ini juga membuat seseorang mengalami stres," ungkap Arrundina.

Menurutnya, kondisi stres yang tinggi akibat 'hukuman' yang diberikan publik, bisa membuat pelaku merasa jera dan tidak akan mengulangi perbuatannya kembali. Namun ia mengingatkan, seseorang bisa dinilai jera, jika terlihat adanya perubahan perilaku.

"Jika ia tidak mengulangi lagi kesalahan yg sama (dan) mengubah perilakunya, baru lah kita dapat menilai bahwa ia jera dan meminta maaf dengan tulus," ujarnya.



Simak Video "Menakuti Bocah Pakai Suara 'Cekikikan' Hantu Bisa Timbulkan Trauma"
[Gambas:Video 20detik]
(any/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT