ADVERTISEMENT

Jumat, 03 Jun 2022 20:47 WIB

Epilepsi: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
ilustrasi orgasme Ilustrasi epilepsi. (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat (neurologis) yang menyebabkan aktivitas otak menjadi tidak normal. Kondisi ini menyebabkan kejang atau periode perilaku yang tidak biasa, sensasi, dan terkadang kehilangan kesadaran.

Kondisi epilepsi ini bisa terjadi pada siapapun, pria maupun wanita. Epilepsi juga bisa terjadi baik pada orang dewasa, anak, maupun bayi.

Penyebab epilepsi

Pada sebagian orang penyebab epilepsi tidak bisa diidentifikasi. Tetapi, pada sebagian lainnya kondisi ini masih bisa ditelusuri ke berbagai faktor, seperti:

Pengaruh genetik

Beberapa jenis epilepsi yang dikategorikan berdasarkan jenis kejang yang dialami atau bagian otak yang terpengaruh bisa diturunkan dalam keluarga. Dalam kasus ini, kemungkinan ada pengaruh dari genetik.

Trauma kepala

Dikutip dari Mayo Clinic, trauma kepala akibat kecelakaan mobil atau cedera traumatis lainnya bisa menyebabkan epilepsi.

Kelainan otak

Kelainan otak, termasuk tumor otak atau malformasi vaskular seperti malformasi arteriovenosa (AVM) dan malformasi kavernosa, dapat menyebabkan epilepsi. Stroke adalah penyebab utama epilepsi pada orang dewasa yang berusia lebih dari 34 tahun.

Infeksi

Infeksi seperti meningitis, HIV, ensefalitis virus, dan beberapa infeksi parasit dapat menyebabkan epilepsi.

Cedera sebelum lahir

Sebelum lahir, bayi sangat sensitif terhadap kerusakan otak yang bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Misalnya seperti infeksi pada ibu, gizi buruk, atau kekurangan oksigen. Kerusakan otak ini dapat mengakibatkan epilepsi atau cerebral palsy.

Gangguan perkembangan

Epilepsi terkadang dapat dikaitkan dengan gangguan perkembangan seperti autisme.

Gejala Epilepsi

Karakteristik kejang bervariasi, tergantung pada bagian otak mana yang mengalami gangguan pertama kali, dan seberapa jauh penyebarannya. Gejala epilepsi meliputi:

  • Kebingungan sementara
  • Tidak merespon
  • Otot kaku
  • Gerakan menyentak tak terkendali dari lengan dan kaki
  • Kehilangan kesadaran
  • Gejala psikologis, seperti ketakutan, kecemasan, atau deja vu

Gejala yang muncul bervariasi, tergantung pada jenis kejang. Dalam kebanyakan kasus, seseorang dengan epilepsi akan cenderung memiliki jenis kejang yang sama setiap kali kambuh. Ini akan membuat gejala yang muncul akan serupa.

Kejang pada penderita epilepsi terbagi menjadi dua, yakni kejang total dan kejang parsial.

Kejang total terjadi saat aktivitas listrik yang tidak normal mempengaruhi seluruh bagian otak, sehingga terjadi di seluruh tubuh. Ada beberapa tipe kejang total:

Kejang tonik-klonik

Kejang ini ditandai dengan tegang di seluruh tubuh, penurunan kesadaran, dan kontraksi otot yang tidak terkendali. Kejang tipe ini juga ditandai dengan tergigitnya lidah dan sulit bernapas.

Kejang absans (petit mal)

Tipe kejang ini lebih sering terjadi pada anak-anak, yang ditandai dnegan tatapan mata yang kosong. Kejang ini juga bisa menyebabkan orang yang mengalaminya hilang kesadaran untuk sementara.

Kejang atonik

Kejang ini menyebabkan penderitanya lemas dan mengalami penurunan kesadaran hingga pingsan, tetapi hanya sesaat.

Kejang mioklonik

Tipe kejang ini disebabkan oleh kontraksi otot yang terjadi secara tiba-tiba. Ini dapat mempengaruhi seluruh tubuh, tetapi lebih sering terjadi pada salah satu atau kedua lengan.

Sementara untuk kejang parsial, aktivitas listrik yang tidak normal di otak hanya mempengaruhi satu bagian otak. Kejang ini dibagi menjadi dua tipe:

Kejang parsial sederhana

Kejang ini ditandai dengan kejang dan kesemutan di satu bagian tubuh. Tetapi, ini tidak membuat orang tersebut mengalami penurunan kesadaran.

Kejang parsial kompleks

Tipe ini menyebabkan penderitanya mengalami penurunan kesadaran. Ini bisa membuat penderitanya memandang dengan tatapan kosong, tidak merespon sekitar, dan melakukan gerakan berulang. Misalnya seperti menggosok-gosok tangan, mengunyah, atau berjalan berputar.

Kapan Harus ke Dokter?

Epilepsi harus ditangani dengan tepat, agar semakin efektif penanganan yang diberikan. Maka dari itu, segera periksakan ke dokter jika:

  • Kejang disertai dengan demam tinggi
  • Epilepsi terjadi saat sedang hamil
  • Kejang berlangsung selama lebih dari 5 menit

Pengobatan Epilepsi

Sampai saat ini, belum ada metode yang tepat untuk pengobatan epilepsi. Namun, ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk menstabilkan aktivitas listrik di otak, yakni:

Obat-obatan

Kebanyakan orang yang mengalami epilepsi akan mengkonsumsi obat anti kejang atau anti epilepsi untuk mengurangi frekuensi dan intensitas kejang. Namun, untuk jenis dan dosisnya dokter harus mempertimbangkan beberapa hal, seperti kondisi pasien, frekuensi kejang, usia, dan faktor lainnya.

Ada lebih dari 20 jenis obat anti kejang yang tersedia. Dokter juga akan memilih obat berdasarkan jenis kejang yang dialami, usia, hingga faktor kesehatan lain.

Terapi

Epilepsi bisa ditangani menggunakan terapi, yakni:

  • Stimulasi saraf vagus, yang dilakukan dengan memasang alat di bawah tulang selangka kiri.
  • Diet ketogenik, ini dilakukan dengan menerapkan pola makan tinggi lemak dan rendah karbohidrat dalam waktu yang ditentukan dokter.
  • Deep brain stimulation, ini dilakukan dengan memasang alat khusus untuk menyeimbangkan sinyal listrik di dalam otak.

Operasi

Adapun tindakan operasi yang bisa dilakukan untuk mengatasi epilepsi, yaitu:

  • Mengangkat bagian kecil di otak yang menyebabkan kejang
  • Memotong jalur saraf di dalam otak yang menyebabkan kejang


Simak Video "Kata Dokter Saraf soal Kaitan Flashlight ''Pengabdi Setan 2'' dengan Epilepsi"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT