Bos Morula IVF Indonesia Bicara Kolaborasi dalam Industri Bayi Tabung

ADVERTISEMENT

Bos Morula IVF Indonesia Bicara Kolaborasi dalam Industri Bayi Tabung

Sponsored - detikHealth
Jumat, 10 Jun 2022 17:14 WIB
Managing Director Morula IVF Indonesia Ade Gustian Yuwono
Foto: Morula IVF
Jakarta -

PT Morula Indonesia (Morula IVF Indonesia) tepat berusia 24 tahun pada 8 Juni 2022. Sebuah usia yang semakin matang bagi Morula IVF Indonesia untuk terus berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi semua pasiennya.

Hingga saat ini, Morula IVF Indonesia telah melayani lebih dari 125.000 pasien dengan melakukan pelayanan IVF sebanyak lebih dari 28.000 siklus (49% market share di Indonesia) dan terus memperbarui teknologi IVF yang dimiliki. Di antaranya melalui teknologi PGT-A dapat diketahui kenormalan dari suatu embrio maupun kromosom 46 XX ataupun 46 XY yang terkandung di dalamnya juga melalui teknologi ICSI, IMSI, Time-Lapse Incubator, ERA (Endometrial Receptivity Analysis) yang dapat memperbesar peluang keberhasilan melalui program IVF (Bayi Tabung) di seluruh cabang Morula IVF Indonesia.

Sejalan dengan itu, Managing Director Morula IVF Indonesia Ade Gustian Yuwono menyampaikan bahwa momentum Anniversary ke-24 Morula IVF Indonesia yang bersamaan dengan upaya pemulihan ekonomi Pemerintah Indonesia. Hal itu membuat Morula akan lebih agresif mengembangkan pelayanan kepada semua pasien Morula, baik melalui teknologi dan pelayanan yang baru, ataupun penambahan cabang baru di seluruh Indonesia untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat Indonesia.

"Morula tak pernah berpuas diri untuk berbenah, tahun ini akan ditandai dengan peluncuran produk layanan terbaru berupa Holistic Fertility Treatment dan juga penambahan paling tidak 3 hingga 4 cabang baru di seluruh Indonesia," tutur Ade dalam keterangan tertulis, Jumat (10/6/2022).

Dalam 4 tahun terakhir sejak bergabung bersama Morula IVF Indonesia di awal tahun 2018, Ade telah mengembangkan unit bisnis Morula Indonesia. Tidak hanya fokus kepada pelayanan bayi tabung namun lebih meluas kepada pelayanan program hamil yang menyeluruh (holistic fertility treatment).

Unit bisnis baru yang berhasil dikembangkan dengan baik meliputi Morula Food di mana nutrisi menjadi bagian sangat penting selama program kehamilan. Morula Wellness yang saat ini masih terpusat di Bali dan Yogyakarta, berupa pelayanan wellness dimulai dari Detox, Spa, Fertility Yoga, fertility acupuncture, meditasi dan dilengkapi dengan leisure time.

Kemudian dikembangkan juga Morula Pharma yang memproduksi dan memasarkan produk yang berhubungan dengan program kehamilan berupa suplemen maupun obat-obatan khusus. Terakhir di tahun 2021 yang lalu, Morula mengembangkan Klinik Fertilitas Indonesia, sebuah jejaring yang dibangun Morula bermitra dengan hampir 150 rumah sakit dan klinik ternama di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, untuk melakukan edukasi kepada masyarakat maupun pelayanan fertilitas tahap awal.

Managing Director Morula IVF Indonesia Ade Gustian YuwonoManaging Director Morula IVF Indonesia Ade Gustian Yuwono (Foto: Morula IVF)

Menurut Ade, industri IVF (Bayi Tabung) di Indonesia sejatinya memiliki potensi yang sangat besar. Pertumbuhan per tahun lebih dari 16% angka rata-rata nasional dan juga angka pernikahan (sebelum pandemi COVID-19) usia subur di Indonesia mencapai kisaran 2 juta pasangan per tahun, incident rate pasangan mengalami ketidaksuburan mencapai 11%-12%, sehingga pasangan yang perlu mendapatkan terapi ketidaksuburan berjumlah sekitar 250.000 pasangan baru per tahun, salah satunya melalui program bayi tabung.

Namun saat ini di Indonesia hanya mampu melayani sekitar 12.000 pasangan saja, dan sekitar 8.000 pasangan menempuh program bayi tabung di luar negeri. Untuk itulah Ade terus-menerus mengajak semua stakeholder baik melalui asosiasi Perfitri maupun klinik bayi tabung di seluruh Indonesia bahwa sekarang ini saatnya untuk berkolaborasi, dan bukan saling berkompetisi satu sama lain.

Kolaborasi antara klinik bayi tabung, asosiasi, komunitas pasien, dan juga didukung pemerintah menjadi kunci untuk meningkatkan edukasi, pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap industri bayi tabung di Indonesia.

"Perlu disadari oleh semua pemangku kepentingan, terutama semua klinik bayi tabung (IVF) di Indonesia dan juga Pemerintah Indonesia, bahwa kolaborasi lah satu-satunya cara untuk meningkatkan kepercayaan pasien terhadap industri bayi tabung dalam negeri dan sekaligus merebut kembali pasien-pasien kita yang melakukan program bayi tabung di luar negeri yang dapat menghemat devisa negara hingga Rp 3 triliun per tahun. Karena secara kemampuan, pengalaman dan teknologi, tim medis klinis di Indonesia sangat mampu bersaing di kancah global," tambah Ade.

Dengan pengalaman lebih dari 23 tahun di industri Pharmaceutical dan Healthcare baik di pasar domestik maupun mancanegara, Ade mencoba untuk membuat pilot project kolaborasi, sebagai langkah awal dipilih project medical & health tourism bersama-sama dengan klinik bayi tabung lainnya, karena Ade yakin setiap klinik bayi tabung di Indonesia mempunyai kelebihan masing-masing, yang apabila disatukan akan menjadi kekuatan luar biasa untuk mampu bersaing di kancah regional ataupun global.

Medical & health tourism yang pertama akan dipilih berlokasi di Bali, sekaligus untuk menjaring turis mancanegara untuk menjalani treatment bayi tabung di Indonesia. Nantinya juga akan dikembangkan di beberapa tempat destinasi medical & health tourism lainnya seperti di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar dan juga Jakarta.

Tak kalah penting, dukungan diperlukan dari pemerintah khususnya lintas sektoral dan lintas kementerian, antara lain dibutuhkan dukungan dari Kemenparekraf, Kemenkes, dan juga Kemenkeu, untuk menyederhanakan rantai pasok dalam industri bayi tabung di Indonesia.

Keunggulan inilah yang menjadi penyebab mengapa pelayanan bayi tabung di negara tetangga sangat dinikmati pasien termasuk pasien dari Indonesia, misalnya dari sisi dukungan fiskal dan perpajakan, kemudahan dalam pendirian klinik bayi tabung, dukungan sarana transportasi dan akomodasi memadai, dan juga yang tak kalah penting dukungan promosi medical maupun health tourism ke mancanegara.

Misalnya kita lihat Thailand, yang sangat besar kontribusi industri medical tourism-nya, karena Pemerintah Thailand telah melakukan promosi di negara lain sejak 20 tahun yang lalu, dan sekarang saatnya mereka untuk memanen hasilnya. Pemerintah Thailand sangat serius menggarap medical tourism dari hulu ke hilir, mulai dari perpajakan, subsidi industri pendukung dalam negeri, kemudahan dan kepastian perizinan, hingga dukungan mencari market baru.

Ade juga mempunyai rencana dalam waktu dekat untuk dapat mempersiapkan kalangan medis klinis di industri bayi tabung Indonesia agar dapat bersaing dalam era Artificial Intelligence ataupun metaverse yang akan datang. Bagaimana para dokter, embriolog, dan semua stakeholders industri bayi tabung di Indonesia mampu memanfaatkan teknologi tersebut sebagai sarana untuk tumbuh lebih agresif lagi dalam memberikan pelayanan prima kepada pasien, dan bukannya menjadi beban.

"Indonesia mempunyai big data yang cukup lengkap dalam industri bayi tabung, harta karun ini dapat menjadi landasan yang solid memasuki dunia metaverse ke depan di mana pemanfaatan Artificial Intelligence akan semakin luas, dan semakin cepat didorong oleh adanya pandemi COVID-19," pungkas Ade.



Simak Video "Pasang Iklan Murah dan Mudah? Adsmart by detiknetwork Aja!"
[Gambas:Video 20detik]
(Content Promotion/Morula IVF)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT