Minggu, 12 Jun 2022 06:40 WIB

Sederet Gejala Omicron Baru BA.4 dan BA.5, Awas Sudah Ada di Indonesia!

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Petugas gabungan melakukan penyekatan di check point Cileunyi. Para pengendara yang tak dapat menunjukkan surat bebas COVID-19 pun dites rapid antigen. Waspada gejala Omicron BA.4 dan BA.5 (Foto: Wisma Putra/Detikcom)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan RI baru-baru ini mengidentifikasi satu kasus subvarian Omicron BA.4 dan tiga Omicron baru lainnya yakni BA.5. Laporan ini dicatat seiring dengan kenaikan kasus COVID-19 tiga pekan terakhir.

Juru bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito sebelumnya mengungkap data grafik kasus positif mingguan naik 31 persen pada 22 Mei 2022, dari 1.814 kasus menjadi 2.385 kasus. Kasus aktif juga kembali meningkat sebesar 10 persen dari 2 Juni yakni 2.105 kasus menjadi 3.433 kasus.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebut ditemukannya subvarian Omicron baru menjadi pemicu kasus COVID-19 kembali merangkak naik. Faktor lain yang disinggung, mobilitas menjadi lebih tinggi sehingga penularan kembali meningkat saat perayaan hari besar seperti Lebaran. Efek peningkatan kasus pasca Lebaran memang baru bisa terlihat lebih dari 28 hingga 30 hari setelahnya.

Budi mewanti-wanti, subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 bisa lolos dari imunitas pasca vaksinasi COVID-19. Bagaimana gejalanya?

Gejala Omicron BA.4 dan BA.5

Dikutip dari Express UK, subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 pertama kali dilaporkan di Afrika Selatan, sudah menyebar sejak Januari lalu. Tidak ada gejala COVID-19 signifikan yang dicatat para dokter atau ahli, tetapi laporan keluhan terbanyak meliputi:

  • Demam
  • Batuk
  • Kehilangan penciuman
  • Kelelahan
  • Rasa tidak enak.

Menurut ilmuwan Denis Kinane asal Inggris, pasien subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 bisa mengalami salah satu gejala COVID-19 di atas.

"Namun, gejalanya akan terus dipantau secara ketat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan badan kesehatan," kata dia.

Ia mengingatkan Omicron bakal terus bermutasi sehingga banyak varian baru muncul. Kabar baiknya, Omicron BA.4 dan BA.5, tidak terbukti menyebabkan gejala COVID-19 lebih parah daripada jenis aslinya.

"Berat ringannya penyakit yang ditimbulkan bukan hanya karena virusnya saja, tetapi juga tergantung pada kekebalan tubuh kita," jelas Kinane.

"Saat ini sebagian besar populasi sebenarnya telah memiliki infeksi alami dan ditambah cakupan vaksin yang tinggi."

Proteksi Vaksin

Namun, seiring berjalannya waktu, proteksi dari vaksin lengkap bahkan booster akan semakin menurun.

"Mungkin lebih banyak suntikan booster di masa depan karena kekebalan ini berkurang, terutama bagi mereka yang rentan secara medis," kata Kinane.

"Skenario terburuk adalah munculnya varian baru yang lebih ganas dan mampu menghindari sistem kekebalan kita karena mutasi yang berlebihan."

Penelitian klinis terkait subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 sejauh ini masih terbatas, tetapi ia meyakini vaksinasi booster masih efektif melawan kedua Omicron baru tersebut.

NEXT: status vaksin dan gejala pasien BA.4 dan BA.5 di RI?

Selanjutnya
Halaman
1 2