ADVERTISEMENT

Selasa, 14 Jun 2022 11:00 WIB

Punya Mutasi Sama, Dokter Paru Ungkap Beda Gejala Delta Vs Omicron BA.4-BA.5

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Different colors of the spike proteins symbolize different mutations. Coronavirus pattern on dark blue background. The pale viruses are different in size. Foto: Getty Images/iStockphoto/i-am-helen
Jakarta -

Subvarian Omicron baru BA.4 dan BA.5 sudah masuk Indonesia sejak akhir Mei 2022, pemerintah baru berhasil mengidentifikasi empat kasus pertama di 6 Juni 2022. Laporan empat kasus pertama Omicron baru BA.4 dan BA.5 berbarengan dengan catatan kenaikan kasus COVID-19 beberapa pekan terakhir, sehingga ada dugaan kuat keterkaitan kenaikan kasus dengan Omicron baru.

Menurut spesialis paru di Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr Erlina Burhan, Omicron BA.4 dan BA.5 memiliki satu mutasi serupa dengan varian Delta yakni L425R.

"Dan perlu diketahui bahwa sebetulnya mutasi L452R ini juga tedeteksi pada Delta yang membuat virus itu lebih mudah menular. Jadi memang asumsi dari banyak peneliti, subvarian Omicron ini apakah dia BA.4, BA.5, BA,3 lebih mudah menular," katanya, dalam agenda daring PDPI, dikutip Selasa (14/6/2022).

"Karena dia kemampuan untuk escape immunitynya atau menghindari dari deteksi sistem imun itu lebih tinggi," terang dr Erlina.

Meski begitu, dr Erlina meyakini sejauh ini gejala subvarian Omicron baru BA.4 dan BA.5 kemungkinan besar berbeda dengan varian Delta, mengacu pada studi Hong Kong terkait posisi replikasi virus 'keluarga Omicron'. Replikasi pada Omicron umumnya terjadi di saluran napas atas.

"Makanya gejalanya banyak nyeri tenggorokan, batuk, hidung tersumbat dan lain-lain. Tapi ada sebagian kecil yang di saluran napas bawah," bebernya.

Sementara pasien COVID-19 Delta lebih mungkin mengalami gejala COVID-19 lebih berat lantaran virus bereplikasi lebih banyak di saluran napas bawah.

"Berbeda dengan Delta, yang umumnya replikasi terjadi di saluran napas bawah, artinya pada kasus Delta banyak yang mengeluhkan sesak napas, terjadi hipoksia atau hipoksemia, karena memang inflamasinya ada di jaringan paru, jadi itu untuk Delta, dan untuk Omicron di saluran napas atas," kata dia.

"Dan untuk BA.4 dan BA.5 ini kemungkinan besar juga sama, bahwa semakin besar replikasinya ada di saluran napas atas, tetapi ada sebagian kecil yang memang di bawah. Itu ada salah satu pasien kita yang sesak," pungkasnya.



Simak Video "Dokter Paru Jelaskan Alasan 89% Gejala Omicron Batuk Kering"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT