DKI Ranking 1 Kualitas Udara Terburuk Dunia, Ini Wilayah Paling Berpolusi

ADVERTISEMENT

DKI Ranking 1 Kualitas Udara Terburuk Dunia, Ini Wilayah Paling Berpolusi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Rabu, 15 Jun 2022 19:31 WIB
Polusi udara masih jadi salah satu persoalan yang terus diupayakan solusinya di Jakarta. Berikut penampakan Kota Jakarta yang tampak dikepung kabut polusi.
Ilustrasi kualitas udara di Jakarta (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

DKI Jakarta menjadi wilayah dengan kualitas udara terburuk di dunia. Per hari ini Rabu (15/6), konsentrasi PM 2.5 di DKI Jakarta meningkat 26,2 kali dari batas pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berdasarkan laporan Air Quality Index (AQI).

Seperti diketahui, PM 2.5 merupakan partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer). Jika terhirup, PM 2.5 bisa berbahaya khususnya pada sistem pernapasan, sehingga bisa muncul sesak napas, iritasi mata, hingga hidung.

Rekomendasi

Empat hal yang direkomendasikan lantaran kualitas udara DKI Jakarta per hari ini terburuk di dunia yakni:

  • Memakai masker di luar ruangan
  • Menutup jendela untuk menghindari paparan udara buruk
  • Menyalakan air purifier
  • Menghindari olahraga di luar ruangan.

Dikutip dari jurnal Pubmed, peningkatan konsentrasi PM 2.5 bisa bahkan bisa menyebabkan penyakit asma, penyakit paru obstruktif kronik, dan kanker paru-paru.

Dalam laporan real time AQI per 11:30 WIB, ada sepuluh daerah dengan polusi udara tertinggi di DKI Jakarta yakni:

  • TJ Depo Pesing
  • Thamrin Residences Apartment
  • AHP- Capital Plaxe
  • Wisma Barito Pacific
  • RespoKare Mask - Wisma 76
  • Widya Chandra, JK
  • Jalan Hayam Wuruk
  • Gading Harmony
  • Wisma Matahari Power
  • TJ Depo Rawa Buaya

Mengapa kualitas udara DKI Jakarta terburuk di dunia?

Laporan AQI Jakarta menyebut salah satu faktornya dipengaruhi populasi yang begitu besar, jalan dipenuhi sepeda motor, mobil, dan truk dalam jumlah besar. Banyak di antaranya akan berada di luar pedoman kendaraan yang aman bagi lingkungan, dengan banyak yang masih menggunakan bahan bakar diesel, menghasilkan tingkat emisi yang jauh lebih tinggi.

"Polutan seperti nitrogen dioksida (NO2) dan sulfur dioksida (SO2) menjadi senyawa utama yang terkait dengan penggunaan kendaraan, dengan nitrogen dioksida ditemukan dalam konsentrasi tertinggi di area dengan volume lalu lintas yang besar," sebut laporan tersebut.

"Selain industri kendaraan yang merusak kualitas udara, batu bara dan pabrik berbasis bahan bakar fosil lainnya tampaknya menjadi masalah yang relevan akhir-akhir ini. Pada tahun 2020, dengan COVID-19 telah membuat sebagian besar kota (dan dunia) terhenti, orang akan memperkirakan tingkat polusi akan turun, tetapi sebaliknya mereka telah meningkat secara konsisten meskipun ada sedikit contoh pariwisata internasional dan domestik. Ini sebagian besar disebabkan oleh pembangkit listrik dan pabrik berbasis batu bara yang disebutkan sebelumnya," tutur mereka.



Simak Video "Tips Aman Berolahraga di Tengah Buruknya Udara Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT