ADVERTISEMENT

Rabu, 29 Jun 2022 18:30 WIB

Pro-Kontra Legalisasi Ganja untuk Kepentingan Medis di RI, Kamu Setuju Nggak?

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
BURIRAM, THAILAND - JUNE 10: A man dressed in a marijuana suit stands with mature marijuana plants at a marijuana legalization expo on June 10, 2022 in Buriram, Thailand. Today the Thai government gave out 1,000 cannabis plants to people in Buriram, a province in eastern Thailand, at its Marijuana legalization kick-off event called “Unlock Marijuana”. On June 9, 2022 Thailand officially decriminalized marijuana cultivation and possession and the government plans to give away 1 million cannabis plants for fee to people throughout the country. The expo in Buriram was focused on educating the public about the uses of marijuana for medicine and food and had informational booths about growing procedures and technology. (Photo by Lauren DeCicca/Getty Images) Ilustrasi ganja medis (Foto: Getty Images/Lauren DeCicca)
Jakarta -

Belakangan ganja medis menjadi sorotan publik usai aksi seorang ibu bernama Santi Warastuti menyuarakan aspirasinya di acara Car Free Day DKI Jakarta. Hal tersebut dilakukan Ibu Santi demi pengobatan sang anak, Pika, yang mengidap cerebral palsy atau kelumpuhan otak.

Aksinya tersebut kemudian menjadi pembicaraan sejumlah pakar hingga lembaga, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Wakil Presiden sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin, meminta Komite Fatwa MUI untuk segera menyiapkan fatwa penggunaan ganja untuk alasan medis.

Menurutnya, fatwa dibutuhkan agar menjadi pedoman para anggota legislatif untuk merumuskan legalisasi ganja medis.

"Bahwa ganja itu memang dilarang dalam Islam. Masalah kesehatan itu MUI harus membuat fatwanya, fatwa baru kebolehannya itu," kata Ma'ruf Amin, dikutip dari situs resmi MUI, Rabu (29/6/2022).

"Saya kira MUI akan segera mengeluarkan fatwanya untuk bisa dipedomani oleh DPR. Jangan sampai nanti berlebihan menimbulkan kemudaratan," ujarnya.

Selain MUI, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, menilai Indonesia perlu memulai kajian tentang pemanfaatan tanaman ganja untuk kepentingan medis. Ia juga menjelaskan, pada akhir 2020 Komisi Narkotika PBB (CND), sudah mengeluarkan ganja dan resin ganja dari Golongan IV Konvensi Tunggal tentang Narkotika tahun 1961. Oleh karenanya, ganja sudah dihapus dari daftar narkoba paling berbahaya yang tidak memiliki manfaat medis.

Meskipun begitu, hal ini membutuhkan riset lebih lanjut sebagai landasan pengambilan kebijakan di Indonesia.

"Kajian medis yang obyektif ini akan menjadi legitimasi ilmiah, apakah program ganja medis perlu dilakukan di Indonesia," kata Charles dikutip dari situs resmi DPR RI, Selasa (28/6/2022).

"Terlepas Indonesia akan melakukan program ganja medis atau tidak nantinya, riset adalah hal yang wajib dan sangat penting dilakukan untuk kemudian menjadi landasan bagi pengambilan kebijakan atau penyusunan regulasi selanjutnya," katanya.

Begitu juga Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, ia menegaskan pemerintah saat ini sedang mengkaji akses penelitian terkait penggunaan ganja medis.

"Ganja sebentar lagi akan keluar regulasinya untuk research, bahwa dimanfaatkan untuk research," beber Budi saat berbincang dengan wartawan di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (29/6/2022).

Dalam kesempatan tersebut, Budi mengaitkan antara fungsi ganja dan morfin. Seperti yang diketahui, morfin masuk dalam golongan opium atau narkotik namun bisa digunakan untuk keperluan medis.

"Ganja itu sama seperti morfin, bahkan lebih keras dari ganja. Itu (morfin-red) kan bisa dipakai untuk yang bermanfaat," katanya.

Di sisi lain, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi-onkologi (Kanker) dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Zubairi Djoerban menyatakan bahwa ganja tidak selamanya aman digunakan untuk keperluan medis. Jika penggunaannya tidak ketat, akan berakibat pada kesehatan masyarakat.

"Merupakan fakta bahwa ganja medis itu legal di sejumlah negara, bahkan untuk non medis. Namun tidak berarti sepenuhnya aman. Jika penggunaan tidak ketat, bisa terjadi penyalahgunaan yang menyebabkan konsekuensi kesehatan bagi penggunanya," tulis Prof Zubairi Djoerban dalam cuitan akun Twitternya, dikutip detikcom atas izin yang bersangkutan, Rabu (29/6/2022).

Ia juga menjelaskan bahwa sampai saat ini belum ada kajian yang membuktikan ganja medis lebih baik dari obatnya. Meski beberapa negara di dunia seperti Amerika Serikat, menggunakan obat sintetis tetrahydrocannabinol (THC) dan obat ganja nabati (Epidiolex) sudah legal digunakan untuk pengobatan kanker dan HIV/AIDS.

"Belum ada bukti obat ganja lebih baik, termasuk untuk nyeri kanker dan epilepsi. Namun ganja medis bisa menjadi pilihan atau alternatif, tapi bukan yang terbaik. Sebab, belum ada juga penyakit yang obat primernya adalah ganja," jelasnya.

Nah, menurut detikers bagaimana nih? Setuju atau tidak jika ganja medis dilegalkan di Indonesia? Tulis di kolom komentar ya.



Simak Video "Penggunaan Ganja Medis Juga Punya Risiko, Apa Saja?"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT