ADVERTISEMENT

Rabu, 06 Jul 2022 20:30 WIB

Cerita Pasien Omicron BA.5 Rasakan Gejala 'Aneh' saat Terpapar

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Hospital COVID
Healthcare workers during an intubation procedure to a COVID patient Foto ilustrasi: Getty Images/Tempura
Jakarta -

Kemunculan subvarian Omicron baru yakni BA.4 dan BA.5 membuat dunia kembali khawatir. Pasalnya, kedua subvarian ini disebut menjadi penyebab naiknya kasus COVID-19 di sejumlah negara.

Seorang wanita bernama Dr Claire Taylor membagikan pengalamannya terinfeksi salah satu subvarian Omicron baru, yaitu BA.5. Lewat media sosial miliknya, ia mengungkapkan gejala tak biasa saat ia positif COVID-19.

Wanita yang berprofesi sebagai dokter asal Inggris itu bersama putranya yang juga terpapar Omicron BA.5 mengalami gejala mirip dengan meningitis. Keduanya mengalami sakit dan kaku pada leher hingga sensitif terhadap cahaya.

"Saya merasakan sakit di mana-mana (tubuh), terasa seperti ditabrak bus, sakit di sekujur tubuh," tulis Dr Claire di akun Twitter miliknya, dikutip dari Express UK, Rabu (6/7/2022).

Dr Claire mengatakan rasa sakit di tubuhnya itu berlangsung selama beberapa hari sebelum lehernya menjadi kaku.

"Saya sebenarnya tidak bisa menggerakkan leher saya sama sekali. Suhu tubuh naik dan merasa tersiksa. Tidak ada gejala flu sama sekali," tegasnya.

Dr Claire di hari kelima setelah gejala itu muncul. Gejalanya termasuk mati rasa, kesemutan di lengan kiri, serta gangguan penglihatan.

"Saya pergi tidur dan bangun dengan penglihatan yang terdistorsi di mata kiri saya. Tidak dapat membaca apapun karena ada sedikit teks yang hilang," jelas Dr Claire.

"Empat hari kemudian (sekarang pada hari ke 14 [penyakit]) mati rasa dan kesemutan hilang," lanjutnya.

Sementara putranya mengalami gejala leher kaku yang menyakitkan dan suhu badan meningkat pada hari pertama ia terinfeksi COVID-19. Dari gejalanya, Dr Claire mengira itu adalah meningitis.

Beberapa hari kemudian, ia dan putranya dinyatakan negatif COVID-19. Gejala-gejala yang muncul perlahan sembuh setelah dua minggu.

"Ini seperti bukan virus pernapasan untuk anak saya dan saya - itu pada dasarnya adalah meningitis virus (demam, sakit leher dan kekakuan dan tidak suka cahaya terang)," cuit dokter itu.



Simak Video "Kasus Harian Covid-19 Jepang Tembus 100.000"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT