Bos WHO Bicara Prediksi Terbaru Kapan Pandemi COVID-19 Berakhir

ADVERTISEMENT

Bos WHO Bicara Prediksi Terbaru Kapan Pandemi COVID-19 Berakhir

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Rabu, 13 Jul 2022 07:37 WIB
Jakarta -

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan bahwa pandemi COVID-19 masih jauh dari kata berakhir. Prediksinya, jumlah kasus akan kembali meningkat dan memberikan tekanan pada sistem kesehatan.

"Gelombang baru virus menunjukkan lagi bahwa COVID-19 belum berakhir. Ketika virus mendorong kita, kita harus menekannya kembali," katanya pada konferensi pers yang dikutip dari Channel News Asia, Rabu (13/7/2022).

"Virus ini masih menyebar bebas, membuat jumlah orang yang dirawat dan yang mengalami kondisi long Covid juga meningkat," lanjutnya.

Ketika penularan dan orang yang sakit meningkat lagi, Tedros menegaskan agar pemerintah negara kembali memperketat protokol kesehatan, yakni memakai masker, peningkatan ventilasi ruangan, hingga testing.

Dalam pertemuan komite darurat pada Jumat (8/7) lalu, WHO memutuskan bahwa pandemi COVID-19 masih menjadi 'Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional'.

Kasus COVID-19 Meningkat Lagi

Direktur kedaruratan WHO Michael Ryan mengatakan kasus COVID-19 kembali meningkat 30 persen dalam dua minggu terakhir. Sebagian besar kasus disebabkan oleh munculnya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, serta pencabutan protokol kesehatan di sejumlah negara.

Ryan mengatakan adanya perubahan ini membuat deteksi kasus dan pemantauan evolusi virus terhambat.

WHO juga prihatin dengan jumlah testing yang mengalami penurunan tajam, yang membuat berkurangnya pengawasan dan genome sequencing. Hal ini membuat penyebaran virus semakin sulit terdeteksi, hingga muncul risiko mutasi yang memperpanjang masa pandemi.

"Ini menghambat penilaian varian virus yang saat ini beredar dan muncul," tulis WHO dalam pernyataan resminya.

"Lintasan evolusi virus dan karakteristik varian yang muncul tidak bisa diprediksi. Jika tidak ada pengendalian penularan, kemungkinan akan meningkatkan munculnya varian baru yang lebih kuat dengan tingkat virulensi, penularan, dan kekebalan yang lebih tinggi," jelasnya.

(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT