ADVERTISEMENT

Jumat, 15 Jul 2022 21:09 WIB

Pola Distribusi Galon Isi Ulang yang Buruk Dinilai Perparah Pelepasan BPA

Dea Duta Aulia - detikHealth
Ilustrasi Galon Air Mineral Ilustrasi/Foto: shutterstock
Jakarta -

Guru Besar bidang pemrosesan pangan Departemen Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Prof. Andri Cahyo Kumoro meminta produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) jangan abai dalam menjaga kualitas air kemasan di dalam galon. Bahkan proses pendistribusian pun harus diperhatikan agar kualitas air tetap terjaga.

Ia menerangkan jika proses pendistribusian air galon tidak diperhatikan maka berpotensi senyawa kimia Bisphenol A (BPA) terlepas dengan cepat. Sehingga hal itu bisa membahayakan bagi kesehatan masyarakat.

BPA sendiri merupakan senyawa kimia yang bisa memicu sejumlah gangguan kesehatan seperti pemicu kanker, mengurangi kesuburan pria atau wanita, diabetes, gangguan jantung, ginjal, dan lainnya.

"Ini sangat berpotensi menjadikan BPA terlepas dengan cepat," kata Andri Cahyo Kumoro dalam keterangan tertulis, Jumat (15/7/2022).

Ia menjelaskan, saat ini, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahaya dari BPA. Oleh karena itu, pelabelan BPA pada air kemasan galon merupakan salah satu cara tepat untuk mengedukasi masyarakat terkait bahaya BPA.

"Saran saya produsen beralih ke kemasan yang lebih aman, yang bebas BPA," katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Prof. Junaidi Khotib menyatakan hal serupa. Ia menjelaskan pola distribusi galon guna ulang yang buruk bisa memperparah pelepasan BPA.

"Pelepasan ini sangat tergantung pada suhu dan tingkat keasaman. Ketika dalam distribusi dan produksi, kemasan galon air minum terpapar cahaya matahari langsung sehingga suhunya meningkat, tentu di sana sangat cepat terjadi migrasi," kata Junaidi.

Ia menambahkan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) harus bergerak agar masyarakat tidak terpapar kimia BPA. BPOM bisa memainkan perannya untuk memperkecil paparan BPA ke masyarakat.

"BPOM bisa memperkecil peluang paparan risiko BPA melalui pemberian label pada kemasan makanan dan minuman," ujarnya.

Tak hanya itu, mengacu data BPOM sebanyak 96,4% galon bermerek yang beredar luas di pasaran menggunakan kemasan polikarbonat jenis plastik keras yang pembuatannya menggunakan bahan campuran BPA.

Sementara itu, penelitian terakhir BPOM atas level migrasi BPA pada galon guna ulang baik di fasilitas produksi, distribusi, dan peredaran menunjukkan pelepasan bahan kimia tersebut.

"Sudah sangat mengkhawatirkan," katanya.

Menurutnya, studi menunjukkan paparan BPA pada tubuh berbanding lurus dengan konsentrasi BPA dalam darah dan urin.

"Sementara konsentrasi BPA dalam darah dan urin sangat erat dengan berbagai penyakit yang berkaitan dengan gangguan endokrin, termasuk perkembangan saraf dan gangguan mental pada anak-anak," jelasnya.

Ia menjelaskan rekomendasi tersebut merujuk pada hasil penelitian Gugus Peneliti Kesehatan Universitas Airlangga terkait efek paparan BPA pada brain development dan gangguan perkembangan mental anak usia dini.

"Penelitian kami sifatnya terbuka, siapa saja bisa mengakses dan yang kami dapatkan adalah evidence efek paparan BPA pada kesehatan mental dan otak anak. Penelitian ini sesuai dengan standar keilmuan dan kesehatan," tutupnya.

(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT