ADVERTISEMENT

Kamis, 28 Jul 2022 16:30 WIB

Maaf, Studi Ini Bawa Kabar Nggak Enak Buat Alumni COVID-19

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Corona Viruses against Dark Background Ilustrasi virus corona. Foto: Getty Images/loops7
Jakarta -

Sebuah studi di British Medical Journal memperkirakan indra penciuman 5,6 persen orang yang terinfeksi COVID-19 mungkin tidak bisa kembali 'normal', sementara 4,4 persen pasien lainnya dilaporkan kehilangan indra perasa permanen. Pakar menyebutkan ini merupakan kondisi umum yang disebut anosmia atau hilangnya indra penciuman dan perasa saat terinfeksi COVID-19.

Namun, banyak orang masih mengeluhkan gejala ini selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun sesudah sembuh.

Mengomentari studi ini, Profesor Paolo Boscolo-Rizzo dari Universitas Trieste Italia menyatakan seseorang yang mengalami hilang indra penciuman dan perasa bisa menyebabkan risiko kesehatan lain seperti anoreksia dan malnutrisi.

"Hilangnya penciuman dan perasa mempengaruhi kualitas hidup dengan merampas kesenangan dan ikatan sosial orang sehari-hari," ucapnya dikutip dari The Sun, Kamis (28/7/2022).

"Orang-orang juga dapat mengalami anoreksia, keengganan makan, kekurangan gizi, kecemasan, dan depresi," sambungnya.

Sementara itu, para ilmuwan di National University of Singapore memeriksa data dari 3.699 pasien yang kehilangan indra perasa atau penciuman setelah tertular COVID-19 untuk melihat berapa banyak yang pulih. Sebanyak tiga perempat kembali pada kondisi normal, sedangkan sisanya mengalami gejala dalam jangka panjang.

"Kelompok lebih besar mungkin mengalami disfungsi jangka panjang," ucap para ilmuwan.

Gejala hilangnya indra penciuman dan perasa dalam jangka panjang bahkan setelah sembuh, merupakan salah satu efek dari kondisi Long COVID.

Dr Kiren Collison ketua gugus tugas Long COVID NHS UK menyatakan lebih dari 45.000 orang telah mengunjungi klinik Long COVID di Inggris dalam setahun terakhir.

"Long COVID dapat menghancurkan bagi mereka yang hidup dengannya," ujarnya.

"Rencana hari ini dibangun di atas perawatan terdepan kami di dunia untuk memastikan dukungan tersedia bagi semua orang yang membutuhkannya, dan bahwa pasien dapat mengakses dukungan spesialis dengan cara yang lebih nyaman," pungkas dia.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT