ADVERTISEMENT

Selasa, 02 Agu 2022 16:00 WIB

Penjelasan Medis di Balik Heboh 'Otak Pindah ke Perut' Usai Autopsi

Vidya Pinandhita - detikHealth
Peti jasad Briadir J saat akan diangkat dari makamnya. (foto: istimewa) Peti mati jenazah Brigadir Yoshua. Foto: Istimewa
Jakarta -

Pernyataan pengacara Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat (Brigadir J), yakni Kamaruddin Simanjuntak, kini bikin geger publik. Ia menyebut, otak jenazah Brigadir J sudah pindah ke perut dari hasil autopsi. Lumrahkah pemindahan otak ke area perut menurut ranah medis dan autopsi?

Menjawab itu, ahli kedokteran forensik dari Universitas Indonesia, dr Budi Sampurna, menjelaskan bahwa di Indonesia, umumnya jaringan dikembalikan ke tempat atau area tubuh semula setelah proses autopsi. Namun memang, setiap negara bisa memiliki prosedur autopsi berbeda, bergantung pada tradisi hingga agama. Begitu juga tata cara pengembalian jaringan setelah autopsi bisa jadi berbeda.

Misalnya di Jerman, Amerika, dan Belanda, otak biasa diletakkan pada rongga perut setelah autopsi. Tujuannya, yakni mencegah cairan otak yang mencair merembes dari bekas tengkorak yang dipotong.

"Kepala itu sudah dipotong tulangnya. Kalau otak itu nanti mencair, maka dia bisa merembes ke situ dan bisa keluar. Oleh karena itu mereka (di sejumlah negara lain) mengatakan, kalau di kami, tidak kita masukkan kembali ke kepala tetapi kepala itu nanti sudah ditutup seperti kapas, atau ada khusus lah semacam kertas ditaruh situ. Kemudian potong lagi tengkoraknya dan boleh ditutup," terang dr Budi pada detikcom, Selasa (2/8/2022).

"Jadi yang tadi otaknya dipindahkan atau diletakkan di daerah perut. Tapi itu kan di negara lain. Jadi masing-masing negara bisa berbeda-beda tata cara mengembalikannya," imbuhnya.

Lebih lanjut dr Budi menerangkan, di Indonesia, terdapat cara pemotongan tengkorak yang membuat cairan otak bisa tertampung dalam posisi tiduran setelah autopsi.

Namun memang, setiap negara bisa memiliki tata cara berbeda terkait proses autopsi. Walhasil, pemindahan otak ke area rongga perut pasca autopsi lumrah terjadi di beberapa negara tertentu.

"Cara memotongnya kalau di kita itu dibikin siku sehingga nanti waktu ditaruh lagi itu akan tetap dan bisa menampung otak pada waktu dia tiduran. Kalau di negara lain tadi yang di Jerman, dia dipotongnya lurus saja begitu dari depan ke belakang seperti topi," terang dr Budi.

"Sehingga nanti kalau dikembalikan ke situ otaknya kemudian ditutup, maka si tulang ini kan geser-geser nih. Geser-geser itu bisa mengakibatkan otaknya yang nantinya menjadi cair itu akan menjadi keluar, rembes," pungkasnya.



Simak Video "Netizen Baper Lihat Pelukan Sambo-Putri, 'Stockholm Syndrome'?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT