ADVERTISEMENT

Sabtu, 06 Agu 2022 14:00 WIB

Terpopuler Sepekan

Sempat Geger 'Otak Jenazah Brigadir J Pindah ke Perut', Ini Penjelasan Medisnya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Peti jasad Briadir J saat akan diangkat dari makamnya. (foto: istimewa) Peti mati jenazah Brigadir Yoshua. Foto: Istimewa
Jakarta -

Pernyataan pengacara dari Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat (Brigadir J), yakni Kamaruddin Simanjuntak, perihal temuan otak jenazah Brigadir J pindah ke perut sempat bikin geger publik. Ahli forensik meluruskan, di beberapa negara, pemindahan letak otak pasca autopsi sebenarnya lumrah terjadi.

Hal tersebut disampaikan oleh ahli kedokteran forensik dari Universitas Indonesia, dr Budi Sampurna. Ia menjelaskan, di Indonesia, jaringan umumnya dikembalikan ke bagian tubuh semula setelah proses autopsi. Namun, setiap negara bisa memiliki prosedur autopsi dan tata cara pengembalian jaringan berbeda, tergantung tradisi hingga agama.

Ia mencontohkan, di Jerman, Amerika, dan Belanda, otak biasa diletakkan pada rongga perut setelah autopsi. Pemindahan tersebut bertujuan mencegah cairan otak yang mencair merembes dari bekas potongan pada tengkorak.

"Kepala itu sudah dipotong tulangnya. Kalau otak itu nanti mencair, maka dia bisa merembes ke situ dan bisa keluar. Oleh karena itu mereka (di sejumlah negara lain) mengatakan, kalau di kami, tidak kita masukkan kembali ke kepala tetapi kepala itu nanti sudah ditutup seperti kapas, atau ada khusus lah semacam kertas ditaruh situ. Kemudian potong lagi tengkoraknya dan boleh ditutup," terangnya pada detikcom, Selasa (2/8/2022).

"Jadi yang tadi otaknya dipindahkan atau diletakkan di daerah perut. Tapi itu kan di negara lain. Jadi masing-masing negara bisa berbeda-beda tata cara mengembalikannya," imbuh dr Budi.

Di Indonesia, terdapat cara pemotongan tengkorak yang membuat cairan otak bisa tertampung dalam posisi tiduran setelah autopsi. Namun dengan perbedaan tata cara autopsi di setiap negara, dr Budi menegaskan, pemindahan otak ke rongga perut pasca autopsi lumrah terjadi di beberapa negara tertentu.

"Cara memotongnya kalau di kita (Indonesia) itu dibikin siku sehingga nanti waktu ditaruh lagi itu akan tetap dan bisa menampung otak pada waktu dia tiduran. Kalau di negara lain tadi yang di Jerman, dia dipotongnya lurus saja begitu dari depan ke belakang seperti topi," jelas dr Budi.

"Sehingga nanti kalau dikembalikan ke situ otaknya kemudian ditutup, maka si tulang ini kan geser-geser nih. Geser-geser itu bisa mengakibatkan otaknya yang nantinya menjadi cair itu akan menjadi keluar, rembes," pungkasnya.



Simak Video "Kenali Hubungan Hipertensi dan Pendarahan Otak"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT