ADVERTISEMENT

Senin, 08 Agu 2022 19:05 WIB

Beda Gejala Omicron BA.5 dari Varian Lain, Paling Banyak Keluhkan Ini

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Virus variant, coronavirus, spike protein. Omicron. Covid-19 seen under the microscope. SARS-CoV-2, 3d rendering Beda gejala Omicron BA.5 dibandingkan varian lain. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Naeblys)
Jakarta -

Subvarian Omicron BA.5 dilaporkan menjadi subvarian yang paling banyak menyebar di banyak negara termasuk Indonesia. Para ahli mengatakan secara umum subvarian ini tidak memiliki gejala yang sangat berbeda dari versi Omicron sebelumnya.

dr Peter Chin-Hong spesialis penyakit menular di Universitas California menyatakan orang yang terinfeksi Omicron BA.5 biasanya mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan, kelelahan, sakit kepala, dan nyeri otot.

Namun, menurutnya orang yang terinfeksi Omicron BA.5 jarang mengalami kehilangan penciuman dan perasa. Dibanding varian sebelumnya, BA.5 juga jarang menimbulkan sesak napas.

"Mereka cenderung jarang kehilangan indra perasa dan penciuman, atau mengalami sesak napas, dibandingkan dengan mereka yang terinfeksi Delta atau varian lain dari virus Corona," ucapnya dikutip dari New York Times, Senin (8/8/2022).

Joseph Khabbaza dokter paru dan perawatan kritis di Klinik Cleveland menyatakan pasien Omicron BA.5 cenderung mengalami gejala pernapasan bagian atas dari pita suara hingga ujung hidung. Beberapa bahkan datang dengan keluhan merasa seperti sakit radang tenggorokan.

"Lebih banyak pasien dengan sinus tersumbat yang menyakitkan dan sakit tenggorokan parah yang dinyatakan positif Covid-19 ketika BA.5 telah beredar," ucapnya.

Sementara itu, epidemiolog Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia menyatakan kesan COVID-19 bergejala ringan pada kasus Omicron adalah efek vaksinasi. COVID-19 Omicron disebutnya tetap bisa berakhir fatal, salah satunya pada orang dengan antibodi pasca vaksinasi yang menurun.

"Bahkan pada data-data sampai saat ini menguatkan subvarian Omicron BA.5, dia punya kemampuan lebih daripada Delta, dari sisi kecepatan penularan, dari kemampuan menginfeksi, bahkan bicara potensi keparahan sama dengan Delta ya dia bisa bereplikasi dan memperburuk organ paru misalnya," ungkapnya kepada detikcom Sabtu (6/8).

"Selain juga kelebihan yang tidak dimiliki oleh Delta adalah kemampuan mereinfeksi, membuat infeksi ulang, bahkan satu bulan pasca sembuh dia bisa terinfeksi lagi," beber Dicky.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT