ADVERTISEMENT

Rabu, 10 Agu 2022 17:30 WIB

Menkes Percepat Beasiswa Dokter Jantung, Buat Dokter Kulit Kok Nggak Ada?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Menkes Budi Gunadi Sadikin Menkes percepat beasiswa untuk dokter spesialis jantung. (Foto: Nafilah Sri Sagita K/detikHealth)
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut banyak orang Indonesia meninggal karena sakit jantung dan penyakit kardiovaskular. Ia berharap ke depannya Indonesia lebih banyak memiliki dokter yang kompeten untuk mengatasi penyakit tersebut.

"Kalau mati karena jelek sedikit, kalau mati karena sakit jantung banyak, tapi karena jelek kemudian meninggal, atau mati karena botak sedikit, tapi mati karena stroke banyak. Jadi mohon maaf kita fokusnya ke stroke, jantung, kanker, sama ginjal dulu, ini paling banyak bikin rakyat Indonesia wafat, agak jelek sedikit gapapa tapi hidupnya panjang," kata Menkes dalam konferensi pers Rabu (10/8/2022).

Menkes juga menargetkan peningkatan peluang beasiswa dokter spesialis dari semula dianggarkan hanya untuk 300-400 dokter, ke depan bisa mencapai lebih dari seribu dokter. Hal ini untuk mengatasi keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dokter di seluruh provinsi, khususnya menangani pasien jantung, stroke, hingga kanker.

Keterbatasan SDM menjadi salah satu penyebab tingginya kematian di tiga penyakit yang membutuhkan penanganan cepat. Budi menjelaskan, standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait ketersediaan dokter di setiap negara adalah satu per 1.000 populasi.

Artinya, kebutuhan SDM dokter idealnya berada di 270 ribu dari 270 juta populasi. Sementara saat ini baru ada 120 ribu dokter, sehingga total kekurangan SDM dokter yakni 150 ribu.

Karenanya, Menkes Budi meningkatkan peluang beasiswa dokter spesialis tersebut di tahun ini, 2022, khusus bagi dokter spesialis dengan penanganan angka kematian paling tinggi di Indonesia.

"Saya ngejar sekarang 1.500 per tahun beasiswa dokter dokter spesialis terutama penyebab kematian paling tinggi, jadi ada dokter yang bilang, pak saya dokter spesialis kulit sama kelamin kenapa tidak ada? Iya, mati karena kulit dan kelamin sedikit," bebernya

Menkes tak menampik kemungkinan ketersediaan beasiswa dokter spesialis yang lain, tetapi rencananya baru terlaksana 2023 hingga 2025.

"Jadi spesialis kulitnya beasiswa-nya kita geser dulu sama spesialis jantung sama bedah kardiovaskular, ya kita akan tingkatin," kata dia.

Menkes mencontohkan, dari seluruh provinsi hanya 40 rumah sakit yang mampu melayani cathlab dan hanya 10 RS yang mampu menangani operasi bedah jantung terbuka. Dalam kasus stroke, kondisinya tidak jauh berbeda.

"Setiap tahun ada 14 ribu bayi meninggal karena kelainan jantung bawaan yang tidak bisa melakukan operasi, karena fasilitasnya tidak ada, alatnya tidak ada, SDM dokternya tidak ada," beber Menkes.

Begitu juga dengan fasilitas pasien untuk kanker. "Kalau udah mau radioterapi banyak provinsi nggak bisa, stroke dan ginjal juga begitu," pungkas dia.



Simak Video "Menkes Budi Gunadi Positif Covid-19, Bagaimana Kondisinya? "
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT