ADVERTISEMENT

Minggu, 14 Agu 2022 10:15 WIB

Ilmuwan Bawa Kabar Baik soal Langya! Virus Baru Muncul Lagi di China

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Blood cells, molecule of DNA forming inside the test tube. 3D illustration, conceptual image of science and technology. Foto: Getty Images/iStockphoto/ktsimage
Jakarta -

Para ilmuwan meyakini temuan virus baru Langya tidak berpotensi memicu pandemi berikutnya. Namun, kemunculan virus baru Langya menandakan betapa mudahnya virus berpindah dari hewan ke manusia tanpa diketahui.

Dikutip dari CNN, virus Langya henipavirus kemungkinan besar menyebar dari tikus pada 35 pasien yang terinfeksi. Kasus terdeteksi di dua provinsi China yakni Shandong dan Henan antara 2018 hingga 2021.

Temuan tersebut mengingatkan para ilmuwan pada kasus zoonosis atau virus yang menular dari hewan di dunia. Jumlahnya kemungkinan lebih banyak dari yang dilaporkan, meski sejauh ini belum ada kasus kematian yang diidentifikasi.

"Kami sangat meremehkan jumlah kasus zoonosis ini di dunia, dan ini (virus Langya) hanyalah puncak gunung es," kata pakar virus baru Leo Poon, seorang profesor di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hong Kong, yang tidak terlibat dalam studi terbaru.

Penelitian ilmiah pertama tentang virus, yang diterbitkan sebagai korespondensi dari tim peneliti China dan internasional di New England Journal of Medicine minggu lalu, mendapat perhatian global karena meningkatnya kekhawatiran atas wabah penyakit. Laporan tersebut beriringan dengan ratusan ribu kasus COVID-19 yang masih mewabah, nyaris tiga tahun berlalu sejak kasus pertama dilaporkan di Wuhan, China.

Meski begitu, para peneliti hingga kini meyakini tidak ada risiko virus Langya menjadi pandemi selanjutnya lantaran nihil kasus antarmanusia. Studi lebih lanjut tentang subset pasien yang lebih besar diperlukan untuk mengesampingkan penyebaran dari manusia ke manusia, demikian laporan mereka.

Ilmuwan penyakit menular veteran Linfa Wang, yang merupakan bagian dari tim peneliti menyebut meskipun virus baru tidak mungkin berkembang menjadi pandemi seperti patogen yang sebelumnya, kasus zoonosis semacam ini tetap perlu diwaspadai.

"Itu memang menunjukkan bahwa peristiwa limpahan zoonosis seperti itu terjadi lebih sering daripada yang kita pikirkan atau ketahui."

"Untuk mengurangi risiko virus yang muncul menjadi krisis kesehatan, sangat penting untuk melakukan pengawasan aktif dengan cara yang transparan dan kolaboratif internasional," kata Wang, seorang profesor di Duke-National University of Singapore Medical School.



Simak Video "35 Orang Terinfeksi Virus Langya, Apa Gejalanya?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT