ADVERTISEMENT

Selasa, 16 Agu 2022 07:13 WIB

Viral Anak SD Disebut Trauma Usai Rambut Dipotong 'Asal-asalan', Benarkah?

Ayunda Septiani - detikHealth
Jakarta -

Baru-baru ini viral unggahan video seorang anak SD disebut trauma usai rambutnya dipotong guru tanpa sepengetahuan orangtua. Orangtua anak tersebuut sempat menyayangkan tindakan guru lantaran sang anak disebut berakhir trauma dan sakit selama tiga hari.

Menyoal kasus tersebut, psikolog klinis Edward Septianto Gani, MPsi menilai respons fisik yang dialami sang anak bukan berarti menandakan trauma. Seseorang disebut trauma berdasarkan tolak ukur dua karakteristik.

"Apa tolak ukurnya? Pertama, trauma itu unbearable, itu artinya tidak tertahankan oleh tubuh, kedua intolerance, jadi kita tidak bisa mentoleransi itu lagi. Kemudian stres yang intens dan berkelanjutan, ada pengulangan di situ, dimana ada pengalaman atau kejadian peristiwa yang dipersepsikan secara personal dan perspektif oleh individu itu sebagai kegiatan yang membahayakan atau mengancam nyawa ataupun juga bisa menjadi mempermalukan individu itu," terang Edward dalam program e-Life detikcom Jumat (12/8/2022).

Karenanya, seseorang yang mengalami trauma memiliki persepsi terhadap suatu kejadian sebagai peristiwa buruk atau berbahaya. Hal ini tidak hanya dirasakan dalam hitungan minggu, melainkan bisa terjadi secara berulang selama bertahun-tahun.

Tidak jarang, seseorang kerap salah didiagnosis terkait trauma. Namun, Edward memastikan seseorang yang memiliki trauma bisa secara tiba-tiba menangis, teriak, hingga tidak bisa berbicara dalam kondisi tertentu. Utamanya kondisi yang mengingatkan dia ke dalam peristiwa trauma.

Berbeda pada kasus anak SD yang rambutnya dipotong tanpa sepengetahuan orangtua. Menurutnya, anak tersebut lebih tepat disebut stres lantaran sebelumnya merasa tidak berdaya saat berada di suatu kejadian yang tidak mengenakkan.

"Dalam kondisi dia tidak berdaya, dia harus mengikuti aturan, dia dikontrol, dia hanya bisa pasrah, diam, hanya bisa menangis, itu kan sangat menyakitkan untuk anak itu, aku pun kalau jadi anak tersebut akan sangat kecewa," jelas dia.

"Karena figur orang dewasa yang harusnya membuat aku nyaman, sekolah yang harusnya membahagiakan buatku, jadi tempat menakutkan, yang diingat rasa takutnya, kejadian tidak menyenangkan saat itu, kalau kita berbicara rasa takut, malu, kecewa, itu tidak bisa dimasukkan kategori trauma itu sendiri," pungkas dia.

(/mjt)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT