ADVERTISEMENT

Selasa, 16 Agu 2022 10:47 WIB

Indonesia Darurat Penggunaan Plastik Berbahaya BPA

Hanifa Widyas - detikHealth
BPA free Foto: iStockphoto/Happy-Lucky
Jakarta -

Dukungan kepada BPOM untuk pelabelan kemasan galon BPA semakin menguat. Oleh sebab itu, masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jujur di label kemasan.

Desakan untuk meregulasi plastik polikarbonat yang mengandung senyawa kimia berbahaya Bisphenol A (BPA) semakin meningkat. Semua yang mendukung regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BOPM) pada kemasan galon BPA punya alasan serupa, yakni demi menjaga kesehatan rakyat dan masa depan generasi muda Indonesia. Tidak main-main, ada lebih dari 130 studi yang melaporkan efek berbahaya dari BPA.

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyerukan dukungan mereka kepada BPOM untuk memberlakukan regulasi pelabelan BPA pada kemasan plastik, khususnya galon isi ulang polikarbonat, demi keamanan dan perlindungan kesehatan masyarakat.

PB IDI menyebutkan sejumlah negara sudah menerapkan pengaturan spesifik BPA pada kemasan pangan. Bahkan, Prancis sudah melarang penggunaan BPA pada seluruh kemasan kontak pangan. Negara bagian California di Amerika Serikat mewajibkan produsen untuk mencantumkan label 'kemasan ini mengandung BPA yang berpotensi menyebabkan kanker, gangguan kehamilan dan sistem reproduksi'.

"Sejumlah negara lain, seperti Denmark, Austria, Swedia, dan Malaysia, juga sudah melarang penggunaan BPA pada kemasan makanan dan minuman untuk konsumen usia rentan 0-3 tahun," kata Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Tidak Menular PB IDI Agustina Puspitasari dalam keterangan tertulis, Selasa (16/8/2022).

Penelitian menunjukkan BPA bisa menimbulkan gangguan hormon kesuburan pria maupun wanita, diabetes dan obesitas, gangguan jantung, penyakit ginjal, kanker, hingga gangguan perkembangan anak. Dengan segala risiko kesehatan tersebut, wajar bila masyarakat berhak mendapat perlindungan melalui label kemasan berisi informasi yang benar.

Dukungan kepada BPOM RI juga datang dari kalangan akademisi dan peneliti seperti epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono. Menurutnya, regulasi BPOM untuk pelabelan pada galon BPA adalah langkah konsisten untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat.

Menurut Pandu, kekhawatiran terkait bahaya BPA adalah sifatnya global dan bisa diukur dari regulasi ketat di banyak negara, yaitu kemasan pangan tidak lagi diperbolehkan menggunakan wadah yang mengandung BPA.

"Di beberapa negara bahkan ada kewajiban pelabelan 'Free BPA' (Bebas BPA), tujuannya untuk edukasi masyarakat," dukungnya.

"Tujuan pelabelan BPA semata melindungi masyarakat. Jadi industri tak perlu berlebihan dalam bersikap," lanjutnya.

Lagi pula, menurut Pandu, produsen-produsen dunia, sudah mengganti wadah produknya ke jenis plastik yang bebas BPA.

"Yang jadi pertanyaan, kenapa unit Danone di negara berkembang tidak mengadopsi hal serupa? Seharusnya sama-sama fair, dong. Lagi pula ini kan hanya pelabelan. Masa label saja keberatan," katanya.

Senada dengan Pandu Riono, Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) Sofyan S. Panjaitan mengatakan semua pihak perlu mendukung dan mendorong lahirnya regulasi pelabelan BPA.

"Memang sudah hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar dan tidak menyesatkan, khususnya via Label & Iklan Pangan," kata Sofyan belum lama ini.

Sofyan berharap nantinya regulasi BPA bisa dikembangkan secara menyeluruh terhadap semua kemasan pangan berbahan plastik. Sejauh ini, Indonesia dan Vietnam adalah contoh dari sedikit negara berkembang yang belum meregulasi kemasan galon BPA.

Jepang 100 Persen Gunakan Plastik PET

Mencontoh hasil positif dari negara lain, Indonesia sebetulnya bisa meninggalkan plastik BPA dan memilih plastik yang lebih aman untuk kemasan makanan dan minuman. Salah satu negara yang bisa dipilih sebagai contoh paling tepat adalah Jepang.

"Jepang sudah meninggalkan plastik BPA dan beralih 100 persen ke plastik PET untuk kebutuhan kemasan di negeri itu," kata pengajar dan peneliti pada Fakultas Teknik,Universitas Indonesia Prof. Mochamad Chalid.

Pada minggu pertama Agustus, Chalid baru saja mengikuti workshop di Tokyo, Jepang, tentang penggunaan plastik berbahan Polyethylene Terephthalate atau disingkat PET. Plastik PET dikenal relatif aman dan digunakan untuk kemasan makanan dan botol minuman di seluruh dunia.

"Tidak ditemukan pelepasan senyawa antimon berbahaya dalam kemasan plastik PET. Di sisi lain, juga belum ditemukan adanya indikasi munculnya endokrin disruptor (senyawa yang bisa mengganggu sistem hormon tubuh, seperti yang terkandung dalam plastik BPA) dalam penggunaan plastik PET," lanjutnya.

BPOM RI Siap Beri Pelabelan pada Galon Air BPA

Semakin kuatnya dukungan dari banyak sektor, tampaknya akan meneguhkan langkah BPOM RI untuk menerapkan regulasi pelabelan galon BPA sebagai edukasi dan juga untuk melindungi kepentingan masyarakat sebagai konsumen. Regulasi BPOM pada tahap awal akan mewajibkan produsen air minum dalam kemasan yang menggunakan galon BPA untuk mencantumkan tulisan: 'Berpotensi Mengandung BPA'.



Simak Video "Peringati Hari Cerebral Palsy, CT ARSA Foundation Gelar Kampanye Edukasi"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT