Bapak-bapak Kok Masih Ogah Pakai Kondom untuk KB? Ini Wanti-wanti Ahli

ADVERTISEMENT

ROUND UP

Bapak-bapak Kok Masih Ogah Pakai Kondom untuk KB? Ini Wanti-wanti Ahli

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Kamis, 25 Agu 2022 05:00 WIB
Collection of colorful condomsSelective focus; shallow DOF
Ilustrasi kondom. Foto: istock
Jakarta -

Menurut laporan BKKBN, keikutsertaan pria dalam program KB yakni kondom baru 3,27 persen dan 0,4 persen untuk vasektomi. Jumlah partisipasi pria untuk penggunaan alat kontrasepsi khususnya kondom di Indonesia terbilang masih minim.

Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan (Lalitbang) BKKBN Prof Muhammad Rizal Martua Damanik menyebut salah satu faktornya akibat muncul anggapan KB adalah urusan perempuan.

"Ada beberapa faktor rendahnya partisipasi pria. Pertama ada anggapan KB adalah urusan perempuan," kata Prof Damanik dalam agenda The 2nd International Conference on Indonesia Family Planning and Reproductive Health di Yogyakarta, Selasa (23/8/2022).

Ia melanjutkan, bahwa seharusnya urusan KB merupakan tanggung jawab kedua belah pihak. Namun, tanggung jawab perencanaan kehamilan seolah-olah masih menjadi tanggung jawab perempuan.

"Artinya kan dalam kontrasepsi ini kita bicara tentang kelahiran jumlah penduduk yang besar. Dengan penggunaan alat kontrasepsi kondom bagi pria, artinya kebutuhan biologis itu bisa tersalurkan tanpa menyebabkan kehamilan," terang Prof Damanik.

Selain itu adanya persepsi memakai kondom kurang nyaman dan mengurangi kenikmatan seksual. Termasuk mengenai stigma dan rumor mengenai kontrasepsi sehingga mempengaruhi keputusan pria untuk menggunakan kondom.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Robert W. Blum, MD dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menyebut selain mengurangi risiko infeksi menular seksual, penggunaan kondom juga efektif menekan angka kehamilan.

"Penting banget. Kondom itu melindungi (dari STI). Ini yang harus disampaikan, khususnya untuk pemuda, apakah kamu sudah siap jadi bapak?" ucapnya dalam sesi diskusi.

Robert mengakui mayoritas masyarakat di dunia yang masih melihat laki-laki sebagai pengambil keputusan dan mereka mendominasi. Masih sangat sedikit laki-laki yang mengambil tanggung jawab mengenai perencanaan keluarga.

Di masa kini, KB bukan hanya sebagai upaya penurunan angka kelahiran, namun juga berkaitan dengan tujuan pemenuhan hak-hak reproduksi, maupun promosi, pencegahan dan penanganan masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas, serta kesehatan dan kesejahteraan ibu dan bayi.

Kondom dianggap sebagai alat kontrasepsi pria yang paling mudah untuk didapatkan dan digunakan. Selain itu, harganya murah dan minim efek samping.



Simak Video "BKKBN Bicara Soal Dampak Broken Home pada Gizi Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT